SKENARIO DEMOKRASI DALAM PEMILWA UNY

Pemilwa UNY yang diadakan tanggal 15 Desember 2009 adalah pemilihan umum untuk memilih jabatan-jabatan yang ada dalam organisasi mahasiswa misalnya partai mahasiswa, Presiden BEM REMA UNY, Presiden BEM Fakultas,Anggota DPM fakultas dan ketua Hima seluruh Prodi yang ada di UNY. Pemilwa ini dilaksanakan oleh KPU universitas untuk partai mahasiswa dan presiden BEM REMA UNY sedangkan KPU fakultas untuk memilih presiden BEM fakultas,anggota DPM fakultas dan ketua Hima. Dalam pemilwa ini juga dibentuk pengawas pemilu baik di tingkat fakultas maupun universitas. Pemilwa UNY diadakan setiap setahun sekali dan merupakan pesta demokrasi terbesar oleh mahasiswa UNY untuk memilih wakil mereka.
Skenario demokrasi yang terjadi dalam pemilwa ini sudah terlihat ketika pembentukan KPU dan panwaslu yakni ketika BEM REMA membentuk serta memilihnya. Hal ini karena pemilwa sebagai agenda tahunan program kerja BEM telah diintervensi oleh suatu organisasi muslim besar yaitu KAMMI (kesatuan aksi mahasiswa muslim indonesia). Bentuk intervensi ini jelas terlihat ketika saat debat kandidat calon presiden BEM REMA yang cuma diikuti oleh dua calon dan dua partai padahal sebelumnya ada empat partai yang mendaftarkan diri namun mengundurkan diri dan tinggal dua partai yaitu partai tugu dan partai bintang perdamaian yang berasal dari satu organisasi yaitu KAMMI. Pernyataan ini dilontarkan oleh panelis dari UGM yang mengatakan dari dahulu UNY dikuasai oleh KAMMI.Hal itu tentunya sangat bertolak belakang dengan prinsip demokrasi yaitu adanya kebebasan baik yang dipilih maupun yang memilih. Dalam acara debat kandidat pun semua yang hadir adalah orang yang berjilbab besar semua sepertinya semuanya telah disusun rapi oleh BEM REMA yang dikuasai Partai Tugu.
Kekecewaan muncul juga oleh kalangan mahasiswa yang melihat KPU diintervensi oleh BEM REMA seperti teori konspirasi dalam pemilihan umum. Mereka melakukan aksi demonstrasi di depan rektorat menuntut BEM REMA independen dan akhirnya BEM REMA pun dinonaktifkan oleh pembantu rektor untuk menghentikan segala aktifitas dan mengosongkan ruangan yang digunakan BEM. Contoh lain dari kecurangan lain adalah adanya pernyataan presiden BEM REMA yang secara terang-terangan mendukung salah satu kandidat dari satu fakultas. Pada saat pemilihan suara pun terjadi suaut hal yang aneh yakni terjadinya kekurangan surat suara padahal pada saat pemilihan banyak mahasiswa yang golput.
Berbagai bentuk kecurangan dalam pemilwa UNY menunjukkan adanya tidak ada sikap saling menghargai dan menghormati proses demokrasi yang ada. Padahal pemilwa tersebut dilakukan di lingkungan kampus yang pemilihnya adalah mahasiswa dan notabennya adalah agen perubahan. seperti itulah kecurangan yang terjadi di lingkungan intelektual apalagi pemilihan umum yang dilakukan masyarakat umum??. Bangsa ini adalah bangsa yang menjunjung demokrasi dengan prinsip dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat serta bukan negara agama yang mengkonspirasikan untuk melenyapkan proses demokrasi di negeri ini. Pemimpin-pemimpin besar lahir dari got-got jalanan bukan dari seminar dan kecurangan pemilihan umum. Pantas saja saat ini banyak pemimpin yang korupsi karena mereka lahir dari demokrasi yang diskenario dan penuh kecurangan.
Kecurangan-kecurangan di atas bukan dari analisis seorang penulis saja namun dari sumber lain seperti LPM ekspresi dalam situsnya http://www.ekspresionline.com. Di sana banyak ditulis kejanggalan-kejanggalan yang terjadi saat pemilu mahasiswa UNY. Dari analisis penulis bahwa jika ini dibiarkan berlarut-larut tidak akan pernah terjadi demokrasi yang sebenarnya dan hanya akan ada kerajaan di UNY yang jabatannya hanya akan diwariskan turun temurun dari satu organisasi agama mayoritas yang ada di UNY dan yang pasti pendidikan multikultural yang digembor-gemborkan selama ini akan lenyap dari UNY bahkan UNY akan berubah menjadi Universitas Islam Negeri Yogyakarta. Kita tunggu saja hasil pemilwa UNY kali ini akankah mampu mengubah dan menyalurkan aspirasi mahasiswa nya???

Iklan

membongkar gurita cikeas

Buku ini ditulis oleh George Junus Aditjondro. Judul lengkapnya: Membongkar Gurita Cikeas, di Balik Kasus Bank Century. Dilaunching hari Rabu (23/12) di Yogya. Hari Sabtu (26/12), buku yang diedarkan melalui jaringan Toko Buku Gramedia ini ditarik dari peredaran. Inilah cuplikan halaman pertama buku ini.

“Apakah penyertaan modal sementara yang berjumlah Rp 6,7 triliun itu ada yang bocor atau tidak sesuai dengan peruntukannya? Bahkan berkembang pula desas-desus,rumor, atau tegasnya fitnah, yang mengatakan bahwa sebagian dana itu dirancang untuk dialirkan ke dana kampanye Partai Demokrat dan Capres SBY; fitnah yang sungguh kejam dan sangat menyakitkan….

Sejauh mana para pengelola Bank Century yang melakukan tindakan pidana diproses secara hukum, termasuk bagaimana akhirnya dana penyertaan modal sementara itu dapat kembali ke negara?”

Begitulah sekelumit pertanyaan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidatonya hari Senin malam, 23 November 2009, menanggapi rekomendasi Tim 8 yang telah dibentuk oleh Presiden sendiri, untuk mengatasi krisis kepercayaan yang meledak di tanah air, setelah dua orang pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) – Bibit S Ryanto dan Chandra M Hamzah – ditetapkan sebagai tersangka kasus pencekalan dan penyalahgunaan wewenang, hari Selasa, 15 September, dan ditahan oleh Mabes Polri, hari Kamis, 29 Oktober 2009.

Barangkali, tanpa disadari oleh SBY sendiri, pernyataannya yang begitu defensif dalam menangkal adanya kaitan antara konflik KPK versus Polri dengan skandal Bank Century, bagaikan membuka kotak Pandora yang sebelumnya agak tertutup oleh drama yang dalam bahasa awam menjadi populer dengan julukan drama cicak melawan buaya.

Memang, drama itu, yang begitu menyedot perhatian publik kepada tokoh Anggodo Widjojo, yang dijuluki “calon Kapolri” atau “Kapolri baru”, cukup sukses mengalihkan perhatian publik dari skandal Bank Century, bank gagal yang mendapat suntikan dana sebesar Rp 6,7 trilyun dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), jauh melebihi Rp 1,3 trilyun yang disetujui DPR‐RI.

Selain merupakan tabir asap alias pengalih isu, penahanan Bibit dan Chandra oleh Mabes Polri dapat ditafsirkan sebagai usaha mencegah KPK membongkar skandal Bank Century itu, bekerjasama dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Soalnya, investigasi kasus Bank Century itu sudah didorong KPK (Batam Pos, 31 Agust 2009). Sedangkan BPK juga sedang meneliti pengikutsertaan dana publik di bank itu, atas permintaan DPR‐RI pra‐Pemilu 2009.
sumber http://www.kompas.com

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!