PEMBREDELAN BUKU

Akhir-akhir ini publik di negeri ini dikejutkan dengan terbitnya buku yang kontroversial yakni “Membongkar Gurita Cikeas” yang dikarang oleh George J Aditjandra seorang Ilmuwan lulusan Newcastle University Australia. Buku ini begitu sangat menyita perhatian publik karena di dalamnya terdapat nama Presiden di negeri ini Susilo Bambang Yudhoyono mengenai kasus Bank Century. Nama SBY diseret dan disebut –sebut menerima aliran dana kampanye dari Century. Namun dalam perkembangannya ilmuwan-ilmuwan lain membantah nya termasuk orang-orang yang di dalamnya dan menganggap fitnah semata.
Pihak Istana Negara yang menjadi bahan kupasan dalam buku milik George Aditjandra tersebut, cepat berfikir logis. Tak mungkin di zaman Orde Reformasi begini masih berlaku pembredelan buku atau pelarangan edar buku. Mereka membuat buku tandingan. Buku yang digagas untuk menetralisir segala tuduhan buruk yang sudah dilancarkan penulis buku pada pihak Istana Negara. Istana Negara itu bukan saja hanya SBY seorang yang dimaksud, tapi seluruh lingkaran-lingkaran kekuasaan yang berlokus di Istana Negara, termasuk para menterinya. Rabu, 6 Januari kemarin, Setiyardi Negara, tentu atas perintah Istana Negara pastinya, meluncurkan buku berjudul: “Hanya Fitnah dan Sensasi, George Revisi Buku”. Sayang tipis, 31 halaman saja. Apesnya lagi, Mantra belum juga membacai apa isi buku setipis itu.
Dialektika intelektual memang perlu dikembangkan di negeri ini. Jika ada musuhmu yang menyerang eksistensimu dengan tangan kosong, maka etikanya juga pantas engkau tangkis dengan tangan hampa. Andaikata pihak lawan melontarkan serangan maut dengan menggunakan senapan, maka cukup engkau halau juga dengan berlindung di balik baju baja dan secepat mungkin engkau arahkan revolver yang ada di balik bajumu ke arah dadanya.
Dalam ilmu jurnalistik, jika ada seseorang yang dirugikan melalui sebuah pemberitaan media massa, maka pihak yang dirugikan tersebut berhak mengklarifikasikannya melalui pemberitaan serupa pada edisi berikutnya. Ada hak jawab dan hak mengkonfrontir maupun sekaligus mengiyakan yang dimiliki oleh seseorang dalam dunia jurnalistik. Jadi kalau kita dirugikan oleh pemberitaan sebuah koran, kita tak perlu memukuli penulis berita tersebut atau nara sumber yang mengemukakan materi berita tersebut. Melainkan menggunakan hak jawab, yang hak jawab tersebut juga berhak untuk di muat di koran bersangkutan, pada halaman yang sama, dan porsi berita yang seimbang pula dengan berita yang merugikan tersebut. Informasi buku, juga baiknya ditaklukkan melalui informasi buku pula. Buku melawan buku, tulisan melawan tulisan. Logika ditandingi dengan logika, postulat ditaklukkan dengan postulat baru, sanggahan dijinakkan dengan data pula dan semacamnya.
Terlepas dari benar atau tidaknya buku “Membongkar Gurita Cikies”, tidak penting untuk kita adili. Pada masa kini yang membenarkan dan menyalahkan adalah pembaca. Pembaca memiliki kebebasan dan kemerdekaan berfikir, mengapresiasi dan menilai apa layak isi sebuah buku. Melarang sebuah buku terbit, betapa pun itu berbahayanya bagi keamanan negara, betapa pun pornonya bahan bacaan buku tersebut, atau betapa pun kontennya jauh dari eleganitas dan menyinggung sara; setiap buku tidak boleh dilarang terbit dan beredar di masyarakat. Nanti yang akan mengadili adalah hukum alam dan masing-masing calon pembeli. Buku yang buruk, tak mungkin akan dibeli oleh masyarakat. Buku yang hanya mengumbar nafsu birahi atau penuh dengan fitnah, tak bakal laku di pasaran. Tapi tampaknya kita belum siap dengan itu semua. Pranata sosial dan maintenun bangsa ini belum sampai pada atmosfer intelektual untuk itu. Kita ini baru mencapai tahapan anak puber yang suka berpetualang menjajali setiap hal, tidak peduli apakah itu perkara haram atau halal.
Sumber: http://www.detiknews.com/

Iklan

MARAKNYA BUNUH DIRI DI NEGERI INI

Akhir-akhir ini di berbagai media diberitakan berbagai kasus bunuh diri. Kasus bunuh diri tersebut dilakukan dengan berbagai cara termasuk dengan melompat dari atas gedung perbelanjaan. Dalam sosiologi bunuh diri merupakan kasus penyimpangan dan merupakan masalah sosial karena bunuh diri penyebabnya menyangkut dengan orang lain. Bunuh diri dilakukan dan dijadikan sebagai jalan keluar satu-satunya oleh sebagian orang karena dengan bunuh diri dirasa semua masalah akan selesai dengan sendirinya padahal kenyataanya masih ada kehidupan di dunia lain.
Dalam karya terkenalnya ‘Le Suicide’ (1897), Durkheim melihat tindakan individu dilatarbelakangi oleh faktor-faktor sosial. Dengan membandingkan data statistik dari masyarakat yang berbeda-beda, Durkheim menunjukkan bahwa ada keteraturan dalam pola-pola bunuh diri :
• Bunuh diri Egoistik dapat kita temui ketika individu dalam suatu masyarakat tidak dapat terintegrasikan oleh kelompoknya, maka dalam hal ini individu tersebut merasa tidak dibutuhkan atau di tiadakan dan dengan perasaan yang demikian maka akan mendorong individu tersebut untuk melakukan bunuh diri
• Bunuh diri Anomik dapat terjadi ketika keadaan suatu kelompok masyarakat dalam keadaan keguncangan dan di dalamnya tidak terdapat suatu Nilai atau Norma yang dapat digunakan sebagai pedoman maka disini individu akan meraskan kebingungan dan hal tersebut akan mendorongnya untuk melakukan tindakan bunuh diri.
• Bunuh diri Altruistik, bunuh diri tipe ini disebabkan oleh adanya ikatan sosial yang sangat kuat. Misal dalam tragedi Bom bali yang mana dalam analisa kasusnya merupakan bom bunuh diri. dalam hal tersebut saya yakin ada sebuah organisasi yang mempunyai missi untuk melakukan pengeboman tersebut ,dan karena kuatnya ikatan sosial dalam organisasi tersebut maka salah satu dari anggota kelompok tersebut rela mengorbankan dirinya asalkan apa yang menjadi misi atau tujuan kelompok tersebut dapat tercapai.
• Bunuh diri Fatalistik, terjadi karena tekanan yang teramat oleh kelompok laen. misalnya karena tekanan seorang Majikan terhadap pembantunya. atau seperti pada masyarakat budak.
Fenomena bunuh diri terjadi di masyarakat adalah bunuh diri anomik yaitu karena sedang mengalami transisi. “Nilai-nilai lama (tradisional) dalam masyarakat telah ditinggalkan, sementara nilai-nilai baru belum terlalu kuat sehingga masyarakat mengalami anomali atau kondisi galau. Kondisi ini membuat masyarakat menjadi sosok yang lemah. Saat tertimpa masalah, mereka kehilangan tempat mengadu, sehingga mudah mengalami putus asa. Nilai tradisional sebagai paham yang ditinggalkan adalah menganut sifat-sifat kegoton-groyongan maupun tolong menolong. Sedangkan nilai modem lebih mengedepankan sisi rasional. Masyarakat saat ini masih berpaham tradisional, tetapi kondisi lingkungan menuntutnya untuk berperilaku modern. Akhirnya, yang muncul sosok yang tidak kuat dan hal itu makin tampak saat mereka tertimpa masalah.
Bukan tanpa sebab seseorang memutuskan bunuh diri sebelum melakukan aksi bunuh diri, ada peristiwa-peristiwa yang melatarbelakangi orang memutuskan mengakhiri hidup. Salah satu pemicunya adalah stres. Saat mengalami kondisi tersebut, umumnya orang tidak lagi memiliki harapan hidup. Sementara situasi lain yang memicu untuk melakukan bunuh diri adalah saat orang berada pada kondisi putus asa. Saat kondisi ini, seseorang tidak memiliki jalan keluar untuk menyelesaikan masalah. Bunuh diri dianggap jalan cepat untuk mengakhiri masalah. Selain karena pribadi seseorang sedang dilanda masalah, media massa dipandang memiliki peran pemicu. Informasi yang menampilkan bunuh diri mengingatkan seseorang untuk melakukan tindakan serupa. Orang yang akan melakukan bunuh diri biasanya pernah memiliki keinginan bunuh diri.
Sumber : Richard osborne,dkk. 2005, Mengenal dan Memahami Sosiologi. Batam:Scientifik Press

PEMANASAN GLOBAL

Akhir-akhir ini isu tentang pemanasan global makin menyeruak bahkan dijadikan hal yang sangat penting. Pemanasan global atau yang sering kita sebut global warming adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar.
Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbondioksida (CO2), metana (CH4), dan clorofluorocarbon (CFC) yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca.
Atmosfer bumi terdiri dari bermacam-macam gas dengan fungsi yang berbeda-beda. Kelompok gas yang menjaga suhu permukaan bumi agar tetap hangat dikenal dengan istilah “gas rumah kaca”. Disebut gas rumah kaca karena sistem kerja gas-gas tersebut di atmosfer bumi mirip dengan cara kerja rumah kaca yang berfungsi menahan panas matahari di dalamnya agar suhu di dalam rumah kaca tetap hangat, dengan begitu tanaman di dalamnya pun akan dapat tumbuh dengan baik karena memiliki panas matahari yang cukup.
Kontributor terbesar pemanasan global saat ini adalah Karbon Dioksida (CO2), metana (CH4) yang dihasilkan agrikultur dan peternakan (terutama dari sistem pencernaan hewan-hewan ternak), Nitrogen Oksida (NO) dari pupuk, dan gas-gas yang digunakan untuk kulkas dan pendingin ruangan (CFC). Rusaknya hutan-hutan yang seharusnya berfungsi sebagai penyimpan CO2 juga makin memperparah keadaan ini karena pohon-pohon yang mati akan melepaskan CO2 yang tersimpan di dalam jaringannya ke atmosfer. Setiap gas rumah kaca memiliki efek pemanasan global yang berbeda-beda.
Beberapa gas menghasilkan efek pemanasan lebih parah dari CO2. Sebagai contoh sebuah molekul metana menghasilkan efek pemanasan 23 kali dari molekul CO2. Molekul NO bahkan menghasilkan efek pemanasan sampai 300 kali dari molekul CO2. Gas-gas lain seperti chlorofluorocarbons (CFC) ada yang menghasilkan efek pemanasan hingga ribuan kali dari CO2. Tetapi untungnya pemakaian CFC telah dilarang di banyak negara karena CFC telah lama dituding sebagai penyebab rusaknya lapisan ozon.
Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya. Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F) dengan efek rumah kaca (tanpanya suhu bumi hanya -18°C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi). Akan tetapi sebaliknya, akibat jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.
Planet kita pada dasarnya membutuhkan gas-gas tesebut untuk menjaga kehidupan di dalamnya. Tanpa keberadaan gas rumah kaca, bumi akan menjadi terlalu dingin untuk ditinggali karena tidak adanya lapisan yang mengisolasi panas matahari. Sebagai perbandingan, planet mars yang memiliki lapisan atmosfer tipis dan tidak memiliki efek rumah kaca memiliki temperatur rata-rata -32o Celcius.
Dengan adanya Global warming tersebut maka negara-negara maju maupun berkembang waspada yaitu dengan membentuk suatu protokol yang dapat mencegah dampak global warming lebih luas lagi. Bahkan PBB telah membentuk suatu badan yang khusus menangani masalah tersebut yakni UNFCC atau united nation for climate change atau badan khusus PBB yang menangani perubahan iklim. Baru-baru ini konferensi tersebut diadakan di kopenhagen Denmark dan bertujuan untuk meratifikasi protokol kyoto yang telah lama. Intinya bahwa negara-negara maju harus mengurangi efek rumah kaca sedangkan negara berkembang di beri dana untuk penghijaun sehingga terjadi timbal balik yang saling menguntungkan.
Sumber :Kedaulatan Rakyat 23 April 2009

SKENARIO DEMOKRASI DALAM PEMILWA UNY

Pemilwa UNY yang diadakan tanggal 15 Desember 2009 adalah pemilihan umum untuk memilih jabatan-jabatan yang ada dalam organisasi mahasiswa misalnya partai mahasiswa, Presiden BEM REMA UNY, Presiden BEM Fakultas,Anggota DPM fakultas dan ketua Hima seluruh Prodi yang ada di UNY. Pemilwa ini dilaksanakan oleh KPU universitas untuk partai mahasiswa dan presiden BEM REMA UNY sedangkan KPU fakultas untuk memilih presiden BEM fakultas,anggota DPM fakultas dan ketua Hima. Dalam pemilwa ini juga dibentuk pengawas pemilu baik di tingkat fakultas maupun universitas. Pemilwa UNY diadakan setiap setahun sekali dan merupakan pesta demokrasi terbesar oleh mahasiswa UNY untuk memilih wakil mereka.
Skenario demokrasi yang terjadi dalam pemilwa ini sudah terlihat ketika pembentukan KPU dan panwaslu yakni ketika BEM REMA membentuk serta memilihnya. Hal ini karena pemilwa sebagai agenda tahunan program kerja BEM telah diintervensi oleh suatu organisasi muslim besar yaitu KAMMI (kesatuan aksi mahasiswa muslim indonesia). Bentuk intervensi ini jelas terlihat ketika saat debat kandidat calon presiden BEM REMA yang cuma diikuti oleh dua calon dan dua partai padahal sebelumnya ada empat partai yang mendaftarkan diri namun mengundurkan diri dan tinggal dua partai yaitu partai tugu dan partai bintang perdamaian yang berasal dari satu organisasi yaitu KAMMI. Pernyataan ini dilontarkan oleh panelis dari UGM yang mengatakan dari dahulu UNY dikuasai oleh KAMMI.Hal itu tentunya sangat bertolak belakang dengan prinsip demokrasi yaitu adanya kebebasan baik yang dipilih maupun yang memilih. Dalam acara debat kandidat pun semua yang hadir adalah orang yang berjilbab besar semua sepertinya semuanya telah disusun rapi oleh BEM REMA yang dikuasai Partai Tugu.
Kekecewaan muncul juga oleh kalangan mahasiswa yang melihat KPU diintervensi oleh BEM REMA seperti teori konspirasi dalam pemilihan umum. Mereka melakukan aksi demonstrasi di depan rektorat menuntut BEM REMA independen dan akhirnya BEM REMA pun dinonaktifkan oleh pembantu rektor untuk menghentikan segala aktifitas dan mengosongkan ruangan yang digunakan BEM. Contoh lain dari kecurangan lain adalah adanya pernyataan presiden BEM REMA yang secara terang-terangan mendukung salah satu kandidat dari satu fakultas. Pada saat pemilihan suara pun terjadi suaut hal yang aneh yakni terjadinya kekurangan surat suara padahal pada saat pemilihan banyak mahasiswa yang golput.
Berbagai bentuk kecurangan dalam pemilwa UNY menunjukkan adanya tidak ada sikap saling menghargai dan menghormati proses demokrasi yang ada. Padahal pemilwa tersebut dilakukan di lingkungan kampus yang pemilihnya adalah mahasiswa dan notabennya adalah agen perubahan. seperti itulah kecurangan yang terjadi di lingkungan intelektual apalagi pemilihan umum yang dilakukan masyarakat umum??. Bangsa ini adalah bangsa yang menjunjung demokrasi dengan prinsip dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat serta bukan negara agama yang mengkonspirasikan untuk melenyapkan proses demokrasi di negeri ini. Pemimpin-pemimpin besar lahir dari got-got jalanan bukan dari seminar dan kecurangan pemilihan umum. Pantas saja saat ini banyak pemimpin yang korupsi karena mereka lahir dari demokrasi yang diskenario dan penuh kecurangan.
Kecurangan-kecurangan di atas bukan dari analisis seorang penulis saja namun dari sumber lain seperti LPM ekspresi dalam situsnya http://www.ekspresionline.com. Di sana banyak ditulis kejanggalan-kejanggalan yang terjadi saat pemilu mahasiswa UNY. Dari analisis penulis bahwa jika ini dibiarkan berlarut-larut tidak akan pernah terjadi demokrasi yang sebenarnya dan hanya akan ada kerajaan di UNY yang jabatannya hanya akan diwariskan turun temurun dari satu organisasi agama mayoritas yang ada di UNY dan yang pasti pendidikan multikultural yang digembor-gemborkan selama ini akan lenyap dari UNY bahkan UNY akan berubah menjadi Universitas Islam Negeri Yogyakarta. Kita tunggu saja hasil pemilwa UNY kali ini akankah mampu mengubah dan menyalurkan aspirasi mahasiswa nya???

membongkar gurita cikeas

Buku ini ditulis oleh George Junus Aditjondro. Judul lengkapnya: Membongkar Gurita Cikeas, di Balik Kasus Bank Century. Dilaunching hari Rabu (23/12) di Yogya. Hari Sabtu (26/12), buku yang diedarkan melalui jaringan Toko Buku Gramedia ini ditarik dari peredaran. Inilah cuplikan halaman pertama buku ini.

“Apakah penyertaan modal sementara yang berjumlah Rp 6,7 triliun itu ada yang bocor atau tidak sesuai dengan peruntukannya? Bahkan berkembang pula desas-desus,rumor, atau tegasnya fitnah, yang mengatakan bahwa sebagian dana itu dirancang untuk dialirkan ke dana kampanye Partai Demokrat dan Capres SBY; fitnah yang sungguh kejam dan sangat menyakitkan….

Sejauh mana para pengelola Bank Century yang melakukan tindakan pidana diproses secara hukum, termasuk bagaimana akhirnya dana penyertaan modal sementara itu dapat kembali ke negara?”

Begitulah sekelumit pertanyaan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidatonya hari Senin malam, 23 November 2009, menanggapi rekomendasi Tim 8 yang telah dibentuk oleh Presiden sendiri, untuk mengatasi krisis kepercayaan yang meledak di tanah air, setelah dua orang pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) – Bibit S Ryanto dan Chandra M Hamzah – ditetapkan sebagai tersangka kasus pencekalan dan penyalahgunaan wewenang, hari Selasa, 15 September, dan ditahan oleh Mabes Polri, hari Kamis, 29 Oktober 2009.

Barangkali, tanpa disadari oleh SBY sendiri, pernyataannya yang begitu defensif dalam menangkal adanya kaitan antara konflik KPK versus Polri dengan skandal Bank Century, bagaikan membuka kotak Pandora yang sebelumnya agak tertutup oleh drama yang dalam bahasa awam menjadi populer dengan julukan drama cicak melawan buaya.

Memang, drama itu, yang begitu menyedot perhatian publik kepada tokoh Anggodo Widjojo, yang dijuluki “calon Kapolri” atau “Kapolri baru”, cukup sukses mengalihkan perhatian publik dari skandal Bank Century, bank gagal yang mendapat suntikan dana sebesar Rp 6,7 trilyun dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), jauh melebihi Rp 1,3 trilyun yang disetujui DPR‐RI.

Selain merupakan tabir asap alias pengalih isu, penahanan Bibit dan Chandra oleh Mabes Polri dapat ditafsirkan sebagai usaha mencegah KPK membongkar skandal Bank Century itu, bekerjasama dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Soalnya, investigasi kasus Bank Century itu sudah didorong KPK (Batam Pos, 31 Agust 2009). Sedangkan BPK juga sedang meneliti pengikutsertaan dana publik di bank itu, atas permintaan DPR‐RI pra‐Pemilu 2009.
sumber http://www.kompas.com

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

  • Kalender

    • Desember 2018
      S S R K J S M
      « Agu    
       12
      3456789
      10111213141516
      17181920212223
      24252627282930
      31  
  • Cari