ALL ABOUT STRUKTUR SOSIAL (MATERI SOSIOLOGI KELAS XI IPS SEMESTER I) BAGIAN 2


A. Empat Lapisan Masyarakat Tani Jawa Kuno
Lapisan sosial pada masyarakat tani kuno terdiri dari beberapa tingkatan yang terdiri dari:
1) Petani pemilik
Petani pemilik disini diartikan sebagai tuan tanah yang mana ia berperan sebagai pemilik tanah yang digarap atau dikerjakan oleh orang lain (penggarap atau buruh tani). Biasanya ia memiliki tanah/sawah yang sangat luas dan termasuk orang kaya atau orang yang memiliki status sosial yang tinggi/puncak (dalam masyarakat tani).
2) Petani pemilik + penggarap
Petani ini selain memiliki lahan juga menggarap atau mengolah sawahnya namun tidak dilakukan secara penuh dan kemudian dibantu oleh buruh tani. Kepemilikan tanah atau sawah petani ini tidak begitu besar luas. Disini ia memiliki status sosial yang tinggi namun tidak berada di puncak (tingkatan kedua).
3) Petani pemilik + penggarap + buruh tani
Petani ini lahannya tidak begitu luas, sehingga ia mengolah tanahnya sendiri tanpa bantuan dari buruh tani.
4) Buruh tani
Peran buruh disini biasanya hanya melakukan pengolahan sawah dan hidupnya sangat bergantung pada pemilik sawah yang mempekerjakannya atau dengan kata lain hidupnya hanya ikut petani pemilik/tuan tanah, sehingga meletakkannya pada status sosial yang paling bawah di dalam masyarakat tani jawa kuno ini.

B. Enam kelas sosial berdasarkan kriteria ekonomi.
Stratifikasi ekonomi akan membedakan warga masyarakat menurut penguasaan dan pemilikan ekonomi. Kriteria ekonomi selalu berkaitan dengan aktivitas pekerjaan, kepemilikan, atau kedua-duanya. Dengan kata lain, pendapatan, kekayaan, dan pekerjaan akan membagi anggota masyarakat kedalam beberapa stratifikasi atau kelas ekonomi.
Setiap stratifikasi dalam stratifikasi ekonomi disebut kelas ekonomi atau sering disebut kelas saja sehingga para warga masyarakat atau penduduk dpat digolongkan kedalam beberapa kelas ekonomi. Istilah kelas ekonomi mempunyai arti relatif sama dengan istilah kelas sosial, hanya saja istilah kels sosial lebih banyak dipkai untuk menunjuk stratifikasi sosial yang didasarkan atas kriteria sosial, seperti pendidikan atau pekerjaan. Tetapi kadang-kadang kelas sosial diartikan sebagai semua orang yang sadar akan kedudukannya didalam suatu pelapisan tanpa membedakan apakah dasar pelapisan itu uang, kepemilikan, pekerjaan, kekuasaan, atau yang lain.
Dilihat dari kriteria ekonomi, secara garis besar terdapat tiga kelas sosial yaitu:
a. Kelas atas (upper class)
b. Kelas menengah (middle class)
c. Kelas bawah (lower class)
Adanya kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah itu dikarenakan dalam masyarakat terdapat ketidak seimbangan atau ketimpangan (inequality) dalam pembagian sesuatu yang dihargai yang kemudian menjadi hak dan kewajiban yang dipikul oleh warga masyarakat.
Ada sebagian orang yang mendapatkan pembagian kecil dan ada pula sebagian orang yang mendapatkan pembagian lebih besar. Golongan yang mendapatkan pembagian lebih besar kemudian akan mendapatkan kedudukan pada pelapisan yang lebih tinggi dan golongan yang mendapatkan pembagian kecil akan mendapatkan kedudukan yang lebih rendah.
Tiga kelas sosial masing-masing masih dapat dibagi menjadi sup kelas sehingga dapat dijelaskan sebagai berikut.
a. Kelas atas (upper class)
– Kelas atas atas (A a)
– Kelas atas menengah (A m)
– Kelas atas bawah (A b)
b. Kelas menengah (middle class)
– Kelas menengah atas (M a)
– Kelas menengah menengah (M m)
– Kelas menengah bawah (M b)
c. Kelas bawah (lower class)
– Kelas bawah atas (B a)
– Kelas bawah menengah (B m)
– Kelas bawah bawah (B b)
Stratifikasi di atas digambarkan dalam bentuk kerucut, hal ini berkaitan dengan jumlah warga masyarakat yang dapat digolongkan kedalam kelas tersebut. Sebaliknya, semakin rendah kelas semakin banyak warga masyarakat yang dapat digolongkan didalamnya. Hal itu tidak hanya berlaku pada stratifikasi atas dasar kriteria ekonomi saja, melainkan juga pada bentuk-bentuk stratifikasi masyarakat yang lain, seperti kriteria sosial dan politik.

C. Lima macam pelapisan sosial kriteria mata pencaharian.
Stratifikasi Sosial Berdasarkan Kriteria Pekerjaan Jenis pekerjaan yang dimiliki oleh seseorang dapat dijadikan sebagai dasar pembedaan dalam masyarakat. Seseorang yang bekerja di kantor dianggap lebih tinggi statusnya daripada bekerja kasar, walaupun mereka mempunyai gaji yang sama. Adapun penggolongan masyarakat didasarkan pada mata pencaharian atau pekerjaan sebagai berikut.
1. Elite yaitu orang kaya dan orang yang menempati kedudukan
atau pekerjaan yang dinilai tinggi oleh masyarakat.
2. Profesional yaitu orang yang berijazah dan bergelar
kesarjanaan serta orang dari dunia perdagangan yang berhasil.
3. Semiprofesional mereka adalah para pegawai kantor,
pedagang, teknisi berpendidikan menengah, mereka yang tidak
berhasil mencapai gelar, para pedagang buku, dan sebagainya.
4. Tenaga terampil mereka adalah orang-orang yang mempunyai
keterampilan teknik mekanik seperti pemotong rambut,
pekerja pabrik, sekretaris, dan fotografer.
5. Tenaga tidak terdidik, dalam melakukan atau menjalankan tugasnya ia tidak perlu memiliki keahlian yang diperoleh dari hasil belalajarnya/pendidikan. Misalnya pembantu rumah tangga dan tukang kebun.
D. Tiga tipe pelapisan sosial kriteria politik kekuasaan.
Pelapisan dalam masyarakat berdasarkan kriteria politik berarti pembedaan penduduk atau warga masyarakat menurut pembagian kekuasaan. Sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial, kekuasaan berbeda dari kriteria lain, yaitu ekonimi dan kekuasaan sosial. Dapat dikatakan kekuasaan merupakan suatu unsur yang khusus dalam pelapisan sosial. Apabila masyarakat menginginkan kehidupan yang teratur, maka kekuasaan yang ada padanya harus pula dibagi-bagi dengan teratur. Apabila kekuasaan tidak dibagi-bagi secara teratur, maka kemungkinan besar di dalam masyarakat akan terjadi pertentangan-pertentangan yang dapat membahayakan keutuhan masyaarakat.
Kekuasaan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain menurut kehendak atau kemauan pemegang kekuasaan. Setiap kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain dinamakan kekuasaan, sedangkan wewenang adalah kekuasaan yang ada pada diri seseorang atau kelompok orang yang mempunyai dukungan atau mendapatkan pengakuan dari masyarakat sehingga wewenang merupakan otoritas atau legalized power. Dengan kata lain, wewenang atau otoritas adalah hak untuk mempengaruhi karena didukung oleh adanya norma atau peraturan yang menentukan keteraturan dalam masyarakat. Berdasarkan pengertian tersebut, wewenang harus didukung oleh kekuasaan, sebab jika tidak wewenang tidak akan berjalan efektif. Apabila kekuasaan itu dijelmakan di dalam diri seseorang atau sekelompok orang, maka orang atau sekelompok orang itu dinamakan pimpinan. Mereka yang menerima pengaruh adalah pengikutnya.
Bentuk-bentuk kekuasaan pada berbaai masyarakat didunia ini beraneka macam dengan masing-masing polanya. Akan tetapi, ada satu pola umum bahwa sistem kekuasaan akan selalu menyesuaikan diri dengan adat istiadat dan pola perilaku yang berlaku dalam masyarakat.
Garis batas yang tegas antara yang menguasai dengan yang dikuasai selalu ada. Garis batas ini menimbulkan pelapisan kekuasaaan atau piramida kekuasaan yang didasarkan pada rasa kekhawatiran para warga masyarakat akan terjadinya disintegrasi masyarakat apabila tidak ada kekuasaan yang menguasainya.
Menurut Mac Iver, ada tiga pola umum sistem stratifikasi kekuasaan pada piramida kekuasaan, yaitu kasta, oligarki, dan demokratis.
a. Tipe kasta
Tipe kasta memiliki sistem stratifikasi kekuasaan dengan garis pemisahan yang tegas dan kaku. Tipe semacam ini biasanya dijumpai pada masyarakat berkasta yang hampir tidak mungkin ditembus. Pada puncak piramida kekuasaan duduk penguasa tertinggi, misalnya raja atau maha raja, dengan lingkungannya yang didukung oleh kaum bangsawan, tentara, dan para pendeta. Pelapisan kedua dihuni oleh para petani dan buruh tani, dan pelapisan terendah terdiri atas para budak.
b. Tipe oligarkhi
Tipe oligarkhi memiliki tipe stratifikasi kekuasaan yang menggambarkan garis pemisah yang tegas diantara strata. Akan tetapi perbedaan antara strata satu dengan yang lain tidak begitu mencolok. Walaupun kedudukan para warga masyarakat masih banyak didasarkan kepada aspek kelahiran (ascribed status), akan tetapi individu masih diberikan kesempatan untuk naik ke strata yang lebih atas. Gambaran tipe tersebut adalah sebagai berikut. Kelas menengah mempunyai warga yang paling banyak: seperti industri, perdagangan, dan keuangan yang memegang peranan yang lebih penting. Ada bermacam-macam cara bagi warga dari strata bawah naik ke strata yang lebih atas, dan juga ada kesempatan bagi warga kelas menengah untuk menjadi penguasa. Tipe piramida semacam ini dijumpai ada masyarakat feodal yang telah berkembang. Suatu variasi dari tipe ini adalah stratifikasi yang terdapat pada negara yang didasarkan pada fasisme atau juga totaliter. Hanya bedanya untuk yang disebut terakhir, kekuasaan berada di tangan partai politik.
c. Tipe demokratis
Tipe demokratis yang tampak adanya garis pemisah antar lapisan yang sifatnya mobil (bergerak). Faktor kelahiran tidak menentukan kedudukan seseorang. Yang terpenting adalah kemampuannya dan kadang-kadang faktor keberuntungan.

E. Pengertian White Collar dan Blue Collar Divition job.
Pekerja kerah putih adalah istilah yang ditujukan kepada pekerja terdidik atau profesional rutin digaji yang bekerja di perkantoran semi-profesional, di bagian administrasi, dan di bagian koordinasi penjualan. Istilah ini adalah kebalikan bagi pekerja kerah biru, yang kegiatannya didominasi oleh kerja manual. Pekerja kerah putih, dengan kontras, melakukan non-manual buruh sering di kantor; dan pekerja industri layanan melakukan interaksi pelanggan melibatkan tenaga kerja, hiburan, ritel dan penjualan di luar, dan sejenisnya.
Pekerja kerah biru adalah anggota dari kelas pekerja yang biasanya melakukan kerja manual dan mendapatkan upah per jam. Pekerja kerah biru dibedakan dari orang-orang di sektor jasa dan kerah putih pekerja, pekerjaan yang tidak dianggap kerja manual. Pekerjaan kerah biru mungkin terampil atau tidak terampil, dan mungkin melibatkan perdagangan manufaktur, pertambangan, bangunan dan konstruksi, kerja mekanis, pemeliharaan, perbaikan dan operasi pemeliharaan atau instalasi teknis.

1. Pedoman untuk memahami pengertian kelas sosial.
Terbentuknya kelas dalam masyarakat karena diperlukan untuk menyesuaikan masyarakat dengan keperluan-keperluan yang nyata, akan tetapi makna kelas dan gejala-gejala kemasyarakatan lainnya hanya dapat dimengerti degan benar apabila diketahui riwayat terjadinya. Definisi lain dari kelas sosial adalah berdasarkan beberapa kriteria yaitu sebagai berikut:
1) Besar atau ukuran jumlah angota-anggotanya.
2) Kebudayaan yang sama, yang menentukan hak-hak dan kewajiban-kewajiban warganya
3) Kelanggengan
4) Tanda-tanda /lambang-lambang yang merupakan ciri khas.
5) Batas-batas yang tegas (bagi kelompok itu terhadap kelompok lain).
6) Antagonisme tertentu
2. Makna kelas sosial dalam hubungannya dengan peluang dan perilaku.
Stratifikasi merupakan konfigurasi atau pemilahan struktur sosial menggunakan parameter graduated atau berjenjang. Hal-hal yang menyebabkan terjadinya stratifikasi sosial yaitu adanya hal-hal yang dihargai dalam masyarakat misalnya uang, tanah, kekuasaan, kehormatan, keturunan, pendidikan, dan sebagainya. Hal-hal tersebut tidak terdistribusi secara merata di masyarakat. Terdapatnya stratifikasi sosial di masyarakat mempengaruhi timbulnya perbedaan:
a. Gaya hidup, dapat terihat dengan jelas perbedaan gaya hidup antara masyarakat kelas atas dengan masyarakat kelas bawah, yang mana gaya hidup masyarakat kelas atas selalu identik dengan kemewahan dan serba kecukupan dalam banyak hal. Sedangkan gaya hidup masyarakat kelas bawah selalu identik dengan apa apa yang serba pas-pasan dan terkadang tidak mampu mencukupi kebutuhan pokoknya.
b. Peluang hidup dan kesehatan adalah salah satu yang penting dan menonjol. Oleh karena, peluang hidup dan kesehatan ini sangat menentukan kualitas hidup seseorang, paling tidak terdapat dua faktor yang menghasilkan hubungan antara kelas sosial dengan kesehatan. Pertama, para anggota kelas sosial yang lebih tinggi biasanya menikmati sanitasi, tindakan-tindakan pencegahan serta perawatan medis yang lebih baik. Kedua, orang-orang yang mengidap penyakit kronis, status sosialnya cenderung turun ke bawah dan sulit mengalami mobilitas sosial vertikal naik. Oleh karena, penyakitnya menghalangi mereka untuk memperoleh dan mempertahankan berbagai pekerjaan.
Sebenarnya, peluang hidup dan kesehatan adalah dua hal yang berbeda. Dapat dikatakan bahwa peluang hidup merupakan kesempatan seseorang untuk meraih kesejahteraan dan kualitas hidup yang sebaik-baiknya. Sedangkan kesehatan adalah kondisi jasmani rohani yang baik dan mendukung perolehan peluang hidup yang besar. Akan tetapi, jika seseorang memiliki peluang hidup yang baik, dia dapat semakin menambah tingkat kesehatannya. Oleh karena itu, keduanya adalah hal yang saling mempengaruhi. Peluang hidup dan kesehatan sendiri dapat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Seseorang yang memiliki tingkat pendidikan rendah biasanya memiliki tingkat peluang hidup dan kesehatan yang rendah pula. Hal tersebut dikarenakan oleh semakin rendah tingkat pendidikannya, semakin rendah pengetahuan yang didapat mengenai kesehatan. Banyak orang berpendidikan rendah tidak tahu pasti bagaimana cara menjaga kesehatan dan mengobati penyakit sehingga justru memperparah keadaan. Tingkat ekonomi dan profesi seseorang pun dapat mempengaruhi peluang hidup dan kesehatan. Orang yang memiliki tingkat ekonomi rendah biasanya tidak mampu mendapatkan perawatan kesehatan yang baik.
c. Peluang bekerja dan berusaha, masyarakat kelas atas biasanya lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan yang mapan dan sesuai dengan yang ia inginkan karena mereka memiliki akses yang kuat dan banyak didalam dunia kerja. Selain itu masyarakt kelas atas cenderung ingim mempertahankan status sosialnya yang berada di atas tersebut dengan materi yang ia punya melalui peluang bekerja dan berusaha ini. Sedangkan untuk warga masyarakat kelas bawah mereka kesulitan untuk mengakses peluang bekerja dan usaha karena keterbatasan materi dan statusnya didalam masyarakat.
d. Respon terhadap perubahan, pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang dinamis yang mana selalu ingin berubah dan maju. Dalam hal ini masyarakat kelas atas memiliki respon yang bebeda dibanding masyarakat kelas bawah terhadap perubahan.
e. Kebahagiaan, disini hal-hal yang menentukan kebahagiaan masyarakat kelas atas dan bawah itu berbeda. Bila masyarakat kelas bawah sudah bahagia apabila kebutuhan pokoknya seperti sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan tercukupi, namun masyarakat dikelas atas belum cukup bahagia bila hanya hal itu saja, lebih dari itu mereka perlu mobil bagus, rumah mewah, jabatan yang bergengsi, perawatan kecantikan, pelayanan dan masih banyak hal lagi.
f. Sosialisasi dalam keluarga/ keharmonisan keluarga, masalah yang sering timbul dalam keluarga yang bersal dari masyarakat kelas bawah biasanya adalah masalah ekonomi, namun pada masyarakat kelas atas masalah ekonomi bukanlah yang utama namun banyak hal lain yang menyebabkan keributan dalam keluarga seperti perselingkuhan, ketidakcocokan dan hal-hal lain seperti yang kita ketahui dalam kehidupan nyata.
g. Perilaku politik, selain dari pekerjaan dan usaha biasanya warga masyarakat kelas atas ini ingin melanggengkan kelas sosialnya tersebut melalui politik atau dengan kata lain orang kaya lebih agresif perilaku politiknya dibanding orang yang tidak mampu.

3. Upaya untuk menanggulangi ketidaksamaan sosial.
Upaya untuk mengurangi ketidaksamaan sosial melalui:
a. Pendidikan; merupakan saluran untuk naik kelas (mobilitas sosial) dan meningkatkan standar kualitas hidup manusia.
b. Pemahaman multikultural (multikulturalisme), paham yang menganggap semua manusia sederajat, Multikulturalisme adalah paham yang mengizinkan atau bahkan menganjurkan keanekaragaman ras dan etnis. Sikap multikulturalisme ditunjukkan dalam sikap menyadari, menerima dan menghargai perbedaan diantara anggota masyarakat.
c. Pemerataan pembangunan. Yang ini ditujukan untuk pemerintah.
4. Upaya generasi muda untuk mengurangi ketidaksamaan sosial.
a. Menunda kesenangan
b. Pandai bermain/ bergaul
c. Sehat

1) Pengertian Status Sosial.
Status sosial adalah kedudukan atau posisi sosial seseorang dalam kelompok masyarakat yang meliputi seluruh posisi sosial yang terdapat dalam sustu kelompok besar dalam masyarakat, dari yang aling rendah hingga yang paling tinggi dalam pola hubungan sosial tertentu.
Status sosial juga bisa diartikan sebagai kedudukan, yaitu tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Kedudukan sosial artinya adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakat sehubungan dengan orang-orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisnya, dan hak-hak serta kewajibannya.
2) 3 Macam Status Sosial.
Paul B. Horton mendefinisikan status atau kedudukan sebagai suatu posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial.
(a) Ascribed Status merupakan kedudukan yang diperoleh seseorang melalui kelahiran.
Misalnya dalam masyarakat yang berkasta seperti yang berada di Bali, India ataupun Kerajaan.
(b) Achieved status merupakan status atau kedudukan seseorang yang diperoleh melalui usaha-usaha yang disengaja.
Misalnya, seorang anak petani ingin menjadi pejabat. Karena ia belajar dengan rajin dan bisa menjadi orang yang dipercaya di lingkungannya maka ia pun berhasil menjadi pejabat.
(c) Assigned status merupakan status atau kedudukan yang diberikan karena jasanya pada masyarakat.
Misalnya pahlawan, kyai
3) 3 Bentuk Stratifikasi Sosial Berdasarkan Achived Status.
1. Stratifikasi berdasarkan Jenjang Pendidikan (education stratification)
Jenjang seseorang biasanya memperngaruhi setatus sosial seseorang di dalam struktur sisialnya. Seseorang yang berpendidikan tinggi hingga bergelar Doktor tentunya akan bersetatus lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang lulusan SD.
2. Stratifikasi di bidang Perkerjaan
Berbagai jenis perkerjaan juga berpengaruh pada system pelapisan sosial. Anda tuntu sering memiliki penilaian bahwa orang yang berprofesi sebagai panrik becak, kuli bangunan, buruh pabrik dan para pekerja kantoran yang berpakaian bersih, berpenampilan rapi, berdasi dan mengendari mobil, selalu membawa Hp tentu memiliki perbedaan status sosial dalam masyarakat. Para pekerja kantoran akan memiliki status sosial yang relative lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang berprofesi sebagai penarik becak. Pola seperti ini juga bersifat terbuka artinya system pelapisan sosial seperti ini membuka peluang bagi siapa saja yang memiliki kegigihan dalam usaha untuk meraihnya termasuk anda.
3. Stratifikasi di bidang Ekonomi
Gejala ini hampir ada diseluruh penjuru dunia. Yang paling mudah di identifikasi di dalam struktur sosial adalah didasarkan pada besar kecilnya penghasilan dan kepemilikan benda-benda materi yang sering disebut harta benda. Indikator antara kaya dan miskin juga mudah sekali di identifikasi, yaitu melalui pemilikan sarana hidup. Orang kaya perkotaan dapat dilihat dari tempat tinggalnya seperti di kawasan real estate elite dengan rumah mewahnya yang dilengkapi dengan taman, kolam renang, memiliki mobil mewah dan benda-benda berharga lainnya. Sedangkan kelompok masyarakat miskin berada dikawasan marginal (pinggiran), hidup di pemukiman kumuh, tidak sehat, kotor, dan sebagainya. Adapun orang kaya perdesaan biasanya diidentifikasi dengan kepemilikan jumlah lahan pertanian, binatang ternak, kebun yang luas dan sebagainya.7
4) 2 Bentuk Stratifikasi Berdasarkan Acribed Status.
1. Status di dasarkan pada system kekerabatan
Fenomena ini dapat dilihat berbagai peran yang harus diperankan oleh masing-masing anggota keluarga dalam suatu rumah tangga. Munculnya kedudukan kepala keluarga, ibu rumah tangga dan anak-anak berimplikasi pada status dan peran yang harus diperankan oleh masing-masing orang dalam rumah tangga. Seorang istri harus berbakti kepada suami dan suami juga harus menghormati istri karena perannya sebagai pengasuh anak, pendidik anak, dan sebagainya, sedangkan anak-anak harus menaati nasehat orang tua dan dari orangtuanya ia berhak mendapatkan kasih saying.
2. Stratifikasi berdasarkan kelahiran (born stratification)
Seorang anak yang dilahirkan akan memiliki status sosial yang mengekor pada status orang tuanya. Tinggi rendahnya seorang anak biasanya mengikuti status orang tuanya.

5) Pengertian Status Simbol.
a. Simbol “sesuatu” yang oleh penggunanya (masyarakat) diberi makna tertentu.
b. Ciri-ciri/tanda-tanda yang melekat pada diri seseorang atau kelompok yang secara relatif dapat menunjukkan statusnya
c. Antara lain: cara berpakaian, cara berbicara, cara belanja, desain rumah, cara mengisi waktu luang, keikutsertaan dalam organisasi, tempat tinggal,cara berbicara, perlengkapan hidup, akses informasi, dst.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s