free counters
Free counters

ALL ABOUT STRUKTUR SOSIAL (MATERI SOSIOLOGI KELAS XI IPS SEMESTER I) BAGIAN 2

A. Empat Lapisan Masyarakat Tani Jawa Kuno
Lapisan sosial pada masyarakat tani kuno terdiri dari beberapa tingkatan yang terdiri dari:
1) Petani pemilik
Petani pemilik disini diartikan sebagai tuan tanah yang mana ia berperan sebagai pemilik tanah yang digarap atau dikerjakan oleh orang lain (penggarap atau buruh tani). Biasanya ia memiliki tanah/sawah yang sangat luas dan termasuk orang kaya atau orang yang memiliki status sosial yang tinggi/puncak (dalam masyarakat tani).
2) Petani pemilik + penggarap
Petani ini selain memiliki lahan juga menggarap atau mengolah sawahnya namun tidak dilakukan secara penuh dan kemudian dibantu oleh buruh tani. Kepemilikan tanah atau sawah petani ini tidak begitu besar luas. Disini ia memiliki status sosial yang tinggi namun tidak berada di puncak (tingkatan kedua).
3) Petani pemilik + penggarap + buruh tani
Petani ini lahannya tidak begitu luas, sehingga ia mengolah tanahnya sendiri tanpa bantuan dari buruh tani.
4) Buruh tani
Peran buruh disini biasanya hanya melakukan pengolahan sawah dan hidupnya sangat bergantung pada pemilik sawah yang mempekerjakannya atau dengan kata lain hidupnya hanya ikut petani pemilik/tuan tanah, sehingga meletakkannya pada status sosial yang paling bawah di dalam masyarakat tani jawa kuno ini.

B. Enam kelas sosial berdasarkan kriteria ekonomi.
Stratifikasi ekonomi akan membedakan warga masyarakat menurut penguasaan dan pemilikan ekonomi. Kriteria ekonomi selalu berkaitan dengan aktivitas pekerjaan, kepemilikan, atau kedua-duanya. Dengan kata lain, pendapatan, kekayaan, dan pekerjaan akan membagi anggota masyarakat kedalam beberapa stratifikasi atau kelas ekonomi.
Setiap stratifikasi dalam stratifikasi ekonomi disebut kelas ekonomi atau sering disebut kelas saja sehingga para warga masyarakat atau penduduk dpat digolongkan kedalam beberapa kelas ekonomi. Istilah kelas ekonomi mempunyai arti relatif sama dengan istilah kelas sosial, hanya saja istilah kels sosial lebih banyak dipkai untuk menunjuk stratifikasi sosial yang didasarkan atas kriteria sosial, seperti pendidikan atau pekerjaan. Tetapi kadang-kadang kelas sosial diartikan sebagai semua orang yang sadar akan kedudukannya didalam suatu pelapisan tanpa membedakan apakah dasar pelapisan itu uang, kepemilikan, pekerjaan, kekuasaan, atau yang lain.
Dilihat dari kriteria ekonomi, secara garis besar terdapat tiga kelas sosial yaitu:
a. Kelas atas (upper class)
b. Kelas menengah (middle class)
c. Kelas bawah (lower class)
Adanya kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah itu dikarenakan dalam masyarakat terdapat ketidak seimbangan atau ketimpangan (inequality) dalam pembagian sesuatu yang dihargai yang kemudian menjadi hak dan kewajiban yang dipikul oleh warga masyarakat.
Ada sebagian orang yang mendapatkan pembagian kecil dan ada pula sebagian orang yang mendapatkan pembagian lebih besar. Golongan yang mendapatkan pembagian lebih besar kemudian akan mendapatkan kedudukan pada pelapisan yang lebih tinggi dan golongan yang mendapatkan pembagian kecil akan mendapatkan kedudukan yang lebih rendah.
Tiga kelas sosial masing-masing masih dapat dibagi menjadi sup kelas sehingga dapat dijelaskan sebagai berikut.
a. Kelas atas (upper class)
– Kelas atas atas (A a)
– Kelas atas menengah (A m)
– Kelas atas bawah (A b)
b. Kelas menengah (middle class)
– Kelas menengah atas (M a)
– Kelas menengah menengah (M m)
– Kelas menengah bawah (M b)
c. Kelas bawah (lower class)
– Kelas bawah atas (B a)
– Kelas bawah menengah (B m)
– Kelas bawah bawah (B b)
Stratifikasi di atas digambarkan dalam bentuk kerucut, hal ini berkaitan dengan jumlah warga masyarakat yang dapat digolongkan kedalam kelas tersebut. Sebaliknya, semakin rendah kelas semakin banyak warga masyarakat yang dapat digolongkan didalamnya. Hal itu tidak hanya berlaku pada stratifikasi atas dasar kriteria ekonomi saja, melainkan juga pada bentuk-bentuk stratifikasi masyarakat yang lain, seperti kriteria sosial dan politik.

C. Lima macam pelapisan sosial kriteria mata pencaharian.
Stratifikasi Sosial Berdasarkan Kriteria Pekerjaan Jenis pekerjaan yang dimiliki oleh seseorang dapat dijadikan sebagai dasar pembedaan dalam masyarakat. Seseorang yang bekerja di kantor dianggap lebih tinggi statusnya daripada bekerja kasar, walaupun mereka mempunyai gaji yang sama. Adapun penggolongan masyarakat didasarkan pada mata pencaharian atau pekerjaan sebagai berikut.
1. Elite yaitu orang kaya dan orang yang menempati kedudukan
atau pekerjaan yang dinilai tinggi oleh masyarakat.
2. Profesional yaitu orang yang berijazah dan bergelar
kesarjanaan serta orang dari dunia perdagangan yang berhasil.
3. Semiprofesional mereka adalah para pegawai kantor,
pedagang, teknisi berpendidikan menengah, mereka yang tidak
berhasil mencapai gelar, para pedagang buku, dan sebagainya.
4. Tenaga terampil mereka adalah orang-orang yang mempunyai
keterampilan teknik mekanik seperti pemotong rambut,
pekerja pabrik, sekretaris, dan fotografer.
5. Tenaga tidak terdidik, dalam melakukan atau menjalankan tugasnya ia tidak perlu memiliki keahlian yang diperoleh dari hasil belalajarnya/pendidikan. Misalnya pembantu rumah tangga dan tukang kebun.
D. Tiga tipe pelapisan sosial kriteria politik kekuasaan.
Pelapisan dalam masyarakat berdasarkan kriteria politik berarti pembedaan penduduk atau warga masyarakat menurut pembagian kekuasaan. Sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial, kekuasaan berbeda dari kriteria lain, yaitu ekonimi dan kekuasaan sosial. Dapat dikatakan kekuasaan merupakan suatu unsur yang khusus dalam pelapisan sosial. Apabila masyarakat menginginkan kehidupan yang teratur, maka kekuasaan yang ada padanya harus pula dibagi-bagi dengan teratur. Apabila kekuasaan tidak dibagi-bagi secara teratur, maka kemungkinan besar di dalam masyarakat akan terjadi pertentangan-pertentangan yang dapat membahayakan keutuhan masyaarakat.
Kekuasaan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain menurut kehendak atau kemauan pemegang kekuasaan. Setiap kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain dinamakan kekuasaan, sedangkan wewenang adalah kekuasaan yang ada pada diri seseorang atau kelompok orang yang mempunyai dukungan atau mendapatkan pengakuan dari masyarakat sehingga wewenang merupakan otoritas atau legalized power. Dengan kata lain, wewenang atau otoritas adalah hak untuk mempengaruhi karena didukung oleh adanya norma atau peraturan yang menentukan keteraturan dalam masyarakat. Berdasarkan pengertian tersebut, wewenang harus didukung oleh kekuasaan, sebab jika tidak wewenang tidak akan berjalan efektif. Apabila kekuasaan itu dijelmakan di dalam diri seseorang atau sekelompok orang, maka orang atau sekelompok orang itu dinamakan pimpinan. Mereka yang menerima pengaruh adalah pengikutnya.
Bentuk-bentuk kekuasaan pada berbaai masyarakat didunia ini beraneka macam dengan masing-masing polanya. Akan tetapi, ada satu pola umum bahwa sistem kekuasaan akan selalu menyesuaikan diri dengan adat istiadat dan pola perilaku yang berlaku dalam masyarakat.
Garis batas yang tegas antara yang menguasai dengan yang dikuasai selalu ada. Garis batas ini menimbulkan pelapisan kekuasaaan atau piramida kekuasaan yang didasarkan pada rasa kekhawatiran para warga masyarakat akan terjadinya disintegrasi masyarakat apabila tidak ada kekuasaan yang menguasainya.
Menurut Mac Iver, ada tiga pola umum sistem stratifikasi kekuasaan pada piramida kekuasaan, yaitu kasta, oligarki, dan demokratis.
a. Tipe kasta
Tipe kasta memiliki sistem stratifikasi kekuasaan dengan garis pemisahan yang tegas dan kaku. Tipe semacam ini biasanya dijumpai pada masyarakat berkasta yang hampir tidak mungkin ditembus. Pada puncak piramida kekuasaan duduk penguasa tertinggi, misalnya raja atau maha raja, dengan lingkungannya yang didukung oleh kaum bangsawan, tentara, dan para pendeta. Pelapisan kedua dihuni oleh para petani dan buruh tani, dan pelapisan terendah terdiri atas para budak.
b. Tipe oligarkhi
Tipe oligarkhi memiliki tipe stratifikasi kekuasaan yang menggambarkan garis pemisah yang tegas diantara strata. Akan tetapi perbedaan antara strata satu dengan yang lain tidak begitu mencolok. Walaupun kedudukan para warga masyarakat masih banyak didasarkan kepada aspek kelahiran (ascribed status), akan tetapi individu masih diberikan kesempatan untuk naik ke strata yang lebih atas. Gambaran tipe tersebut adalah sebagai berikut. Kelas menengah mempunyai warga yang paling banyak: seperti industri, perdagangan, dan keuangan yang memegang peranan yang lebih penting. Ada bermacam-macam cara bagi warga dari strata bawah naik ke strata yang lebih atas, dan juga ada kesempatan bagi warga kelas menengah untuk menjadi penguasa. Tipe piramida semacam ini dijumpai ada masyarakat feodal yang telah berkembang. Suatu variasi dari tipe ini adalah stratifikasi yang terdapat pada negara yang didasarkan pada fasisme atau juga totaliter. Hanya bedanya untuk yang disebut terakhir, kekuasaan berada di tangan partai politik.
c. Tipe demokratis
Tipe demokratis yang tampak adanya garis pemisah antar lapisan yang sifatnya mobil (bergerak). Faktor kelahiran tidak menentukan kedudukan seseorang. Yang terpenting adalah kemampuannya dan kadang-kadang faktor keberuntungan.

E. Pengertian White Collar dan Blue Collar Divition job.
Pekerja kerah putih adalah istilah yang ditujukan kepada pekerja terdidik atau profesional rutin digaji yang bekerja di perkantoran semi-profesional, di bagian administrasi, dan di bagian koordinasi penjualan. Istilah ini adalah kebalikan bagi pekerja kerah biru, yang kegiatannya didominasi oleh kerja manual. Pekerja kerah putih, dengan kontras, melakukan non-manual buruh sering di kantor; dan pekerja industri layanan melakukan interaksi pelanggan melibatkan tenaga kerja, hiburan, ritel dan penjualan di luar, dan sejenisnya.
Pekerja kerah biru adalah anggota dari kelas pekerja yang biasanya melakukan kerja manual dan mendapatkan upah per jam. Pekerja kerah biru dibedakan dari orang-orang di sektor jasa dan kerah putih pekerja, pekerjaan yang tidak dianggap kerja manual. Pekerjaan kerah biru mungkin terampil atau tidak terampil, dan mungkin melibatkan perdagangan manufaktur, pertambangan, bangunan dan konstruksi, kerja mekanis, pemeliharaan, perbaikan dan operasi pemeliharaan atau instalasi teknis.

1. Pedoman untuk memahami pengertian kelas sosial.
Terbentuknya kelas dalam masyarakat karena diperlukan untuk menyesuaikan masyarakat dengan keperluan-keperluan yang nyata, akan tetapi makna kelas dan gejala-gejala kemasyarakatan lainnya hanya dapat dimengerti degan benar apabila diketahui riwayat terjadinya. Definisi lain dari kelas sosial adalah berdasarkan beberapa kriteria yaitu sebagai berikut:
1) Besar atau ukuran jumlah angota-anggotanya.
2) Kebudayaan yang sama, yang menentukan hak-hak dan kewajiban-kewajiban warganya
3) Kelanggengan
4) Tanda-tanda /lambang-lambang yang merupakan ciri khas.
5) Batas-batas yang tegas (bagi kelompok itu terhadap kelompok lain).
6) Antagonisme tertentu
2. Makna kelas sosial dalam hubungannya dengan peluang dan perilaku.
Stratifikasi merupakan konfigurasi atau pemilahan struktur sosial menggunakan parameter graduated atau berjenjang. Hal-hal yang menyebabkan terjadinya stratifikasi sosial yaitu adanya hal-hal yang dihargai dalam masyarakat misalnya uang, tanah, kekuasaan, kehormatan, keturunan, pendidikan, dan sebagainya. Hal-hal tersebut tidak terdistribusi secara merata di masyarakat. Terdapatnya stratifikasi sosial di masyarakat mempengaruhi timbulnya perbedaan:
a. Gaya hidup, dapat terihat dengan jelas perbedaan gaya hidup antara masyarakat kelas atas dengan masyarakat kelas bawah, yang mana gaya hidup masyarakat kelas atas selalu identik dengan kemewahan dan serba kecukupan dalam banyak hal. Sedangkan gaya hidup masyarakat kelas bawah selalu identik dengan apa apa yang serba pas-pasan dan terkadang tidak mampu mencukupi kebutuhan pokoknya.
b. Peluang hidup dan kesehatan adalah salah satu yang penting dan menonjol. Oleh karena, peluang hidup dan kesehatan ini sangat menentukan kualitas hidup seseorang, paling tidak terdapat dua faktor yang menghasilkan hubungan antara kelas sosial dengan kesehatan. Pertama, para anggota kelas sosial yang lebih tinggi biasanya menikmati sanitasi, tindakan-tindakan pencegahan serta perawatan medis yang lebih baik. Kedua, orang-orang yang mengidap penyakit kronis, status sosialnya cenderung turun ke bawah dan sulit mengalami mobilitas sosial vertikal naik. Oleh karena, penyakitnya menghalangi mereka untuk memperoleh dan mempertahankan berbagai pekerjaan.
Sebenarnya, peluang hidup dan kesehatan adalah dua hal yang berbeda. Dapat dikatakan bahwa peluang hidup merupakan kesempatan seseorang untuk meraih kesejahteraan dan kualitas hidup yang sebaik-baiknya. Sedangkan kesehatan adalah kondisi jasmani rohani yang baik dan mendukung perolehan peluang hidup yang besar. Akan tetapi, jika seseorang memiliki peluang hidup yang baik, dia dapat semakin menambah tingkat kesehatannya. Oleh karena itu, keduanya adalah hal yang saling mempengaruhi. Peluang hidup dan kesehatan sendiri dapat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Seseorang yang memiliki tingkat pendidikan rendah biasanya memiliki tingkat peluang hidup dan kesehatan yang rendah pula. Hal tersebut dikarenakan oleh semakin rendah tingkat pendidikannya, semakin rendah pengetahuan yang didapat mengenai kesehatan. Banyak orang berpendidikan rendah tidak tahu pasti bagaimana cara menjaga kesehatan dan mengobati penyakit sehingga justru memperparah keadaan. Tingkat ekonomi dan profesi seseorang pun dapat mempengaruhi peluang hidup dan kesehatan. Orang yang memiliki tingkat ekonomi rendah biasanya tidak mampu mendapatkan perawatan kesehatan yang baik.
c. Peluang bekerja dan berusaha, masyarakat kelas atas biasanya lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan yang mapan dan sesuai dengan yang ia inginkan karena mereka memiliki akses yang kuat dan banyak didalam dunia kerja. Selain itu masyarakt kelas atas cenderung ingim mempertahankan status sosialnya yang berada di atas tersebut dengan materi yang ia punya melalui peluang bekerja dan berusaha ini. Sedangkan untuk warga masyarakat kelas bawah mereka kesulitan untuk mengakses peluang bekerja dan usaha karena keterbatasan materi dan statusnya didalam masyarakat.
d. Respon terhadap perubahan, pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang dinamis yang mana selalu ingin berubah dan maju. Dalam hal ini masyarakat kelas atas memiliki respon yang bebeda dibanding masyarakat kelas bawah terhadap perubahan.
e. Kebahagiaan, disini hal-hal yang menentukan kebahagiaan masyarakat kelas atas dan bawah itu berbeda. Bila masyarakat kelas bawah sudah bahagia apabila kebutuhan pokoknya seperti sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan tercukupi, namun masyarakat dikelas atas belum cukup bahagia bila hanya hal itu saja, lebih dari itu mereka perlu mobil bagus, rumah mewah, jabatan yang bergengsi, perawatan kecantikan, pelayanan dan masih banyak hal lagi.
f. Sosialisasi dalam keluarga/ keharmonisan keluarga, masalah yang sering timbul dalam keluarga yang bersal dari masyarakat kelas bawah biasanya adalah masalah ekonomi, namun pada masyarakat kelas atas masalah ekonomi bukanlah yang utama namun banyak hal lain yang menyebabkan keributan dalam keluarga seperti perselingkuhan, ketidakcocokan dan hal-hal lain seperti yang kita ketahui dalam kehidupan nyata.
g. Perilaku politik, selain dari pekerjaan dan usaha biasanya warga masyarakat kelas atas ini ingin melanggengkan kelas sosialnya tersebut melalui politik atau dengan kata lain orang kaya lebih agresif perilaku politiknya dibanding orang yang tidak mampu.

3. Upaya untuk menanggulangi ketidaksamaan sosial.
Upaya untuk mengurangi ketidaksamaan sosial melalui:
a. Pendidikan; merupakan saluran untuk naik kelas (mobilitas sosial) dan meningkatkan standar kualitas hidup manusia.
b. Pemahaman multikultural (multikulturalisme), paham yang menganggap semua manusia sederajat, Multikulturalisme adalah paham yang mengizinkan atau bahkan menganjurkan keanekaragaman ras dan etnis. Sikap multikulturalisme ditunjukkan dalam sikap menyadari, menerima dan menghargai perbedaan diantara anggota masyarakat.
c. Pemerataan pembangunan. Yang ini ditujukan untuk pemerintah.
4. Upaya generasi muda untuk mengurangi ketidaksamaan sosial.
a. Menunda kesenangan
b. Pandai bermain/ bergaul
c. Sehat

1) Pengertian Status Sosial.
Status sosial adalah kedudukan atau posisi sosial seseorang dalam kelompok masyarakat yang meliputi seluruh posisi sosial yang terdapat dalam sustu kelompok besar dalam masyarakat, dari yang aling rendah hingga yang paling tinggi dalam pola hubungan sosial tertentu.
Status sosial juga bisa diartikan sebagai kedudukan, yaitu tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Kedudukan sosial artinya adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakat sehubungan dengan orang-orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisnya, dan hak-hak serta kewajibannya.
2) 3 Macam Status Sosial.
Paul B. Horton mendefinisikan status atau kedudukan sebagai suatu posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial.
(a) Ascribed Status merupakan kedudukan yang diperoleh seseorang melalui kelahiran.
Misalnya dalam masyarakat yang berkasta seperti yang berada di Bali, India ataupun Kerajaan.
(b) Achieved status merupakan status atau kedudukan seseorang yang diperoleh melalui usaha-usaha yang disengaja.
Misalnya, seorang anak petani ingin menjadi pejabat. Karena ia belajar dengan rajin dan bisa menjadi orang yang dipercaya di lingkungannya maka ia pun berhasil menjadi pejabat.
(c) Assigned status merupakan status atau kedudukan yang diberikan karena jasanya pada masyarakat.
Misalnya pahlawan, kyai
3) 3 Bentuk Stratifikasi Sosial Berdasarkan Achived Status.
1. Stratifikasi berdasarkan Jenjang Pendidikan (education stratification)
Jenjang seseorang biasanya memperngaruhi setatus sosial seseorang di dalam struktur sisialnya. Seseorang yang berpendidikan tinggi hingga bergelar Doktor tentunya akan bersetatus lebih tinggi dibandingkan dengan seorang yang lulusan SD.
2. Stratifikasi di bidang Perkerjaan
Berbagai jenis perkerjaan juga berpengaruh pada system pelapisan sosial. Anda tuntu sering memiliki penilaian bahwa orang yang berprofesi sebagai panrik becak, kuli bangunan, buruh pabrik dan para pekerja kantoran yang berpakaian bersih, berpenampilan rapi, berdasi dan mengendari mobil, selalu membawa Hp tentu memiliki perbedaan status sosial dalam masyarakat. Para pekerja kantoran akan memiliki status sosial yang relative lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang berprofesi sebagai penarik becak. Pola seperti ini juga bersifat terbuka artinya system pelapisan sosial seperti ini membuka peluang bagi siapa saja yang memiliki kegigihan dalam usaha untuk meraihnya termasuk anda.
3. Stratifikasi di bidang Ekonomi
Gejala ini hampir ada diseluruh penjuru dunia. Yang paling mudah di identifikasi di dalam struktur sosial adalah didasarkan pada besar kecilnya penghasilan dan kepemilikan benda-benda materi yang sering disebut harta benda. Indikator antara kaya dan miskin juga mudah sekali di identifikasi, yaitu melalui pemilikan sarana hidup. Orang kaya perkotaan dapat dilihat dari tempat tinggalnya seperti di kawasan real estate elite dengan rumah mewahnya yang dilengkapi dengan taman, kolam renang, memiliki mobil mewah dan benda-benda berharga lainnya. Sedangkan kelompok masyarakat miskin berada dikawasan marginal (pinggiran), hidup di pemukiman kumuh, tidak sehat, kotor, dan sebagainya. Adapun orang kaya perdesaan biasanya diidentifikasi dengan kepemilikan jumlah lahan pertanian, binatang ternak, kebun yang luas dan sebagainya.7
4) 2 Bentuk Stratifikasi Berdasarkan Acribed Status.
1. Status di dasarkan pada system kekerabatan
Fenomena ini dapat dilihat berbagai peran yang harus diperankan oleh masing-masing anggota keluarga dalam suatu rumah tangga. Munculnya kedudukan kepala keluarga, ibu rumah tangga dan anak-anak berimplikasi pada status dan peran yang harus diperankan oleh masing-masing orang dalam rumah tangga. Seorang istri harus berbakti kepada suami dan suami juga harus menghormati istri karena perannya sebagai pengasuh anak, pendidik anak, dan sebagainya, sedangkan anak-anak harus menaati nasehat orang tua dan dari orangtuanya ia berhak mendapatkan kasih saying.
2. Stratifikasi berdasarkan kelahiran (born stratification)
Seorang anak yang dilahirkan akan memiliki status sosial yang mengekor pada status orang tuanya. Tinggi rendahnya seorang anak biasanya mengikuti status orang tuanya.

5) Pengertian Status Simbol.
a. Simbol “sesuatu” yang oleh penggunanya (masyarakat) diberi makna tertentu.
b. Ciri-ciri/tanda-tanda yang melekat pada diri seseorang atau kelompok yang secara relatif dapat menunjukkan statusnya
c. Antara lain: cara berpakaian, cara berbicara, cara belanja, desain rumah, cara mengisi waktu luang, keikutsertaan dalam organisasi, tempat tinggal,cara berbicara, perlengkapan hidup, akses informasi, dst.

ALL ABOUT STRUKTUR SOSIAL (MATERI SOSIOLOGI KELAS XI IPS SEMESTER I) BAGIAN 1

A. Pengertian stratifikasi sosial
a. Definisi stratifikasi sosial berdasarkan pendapat para ahli
Kata stratifikasi sosial berasal dari bahasa latin, yaitu stratum yang berarti tingkatan dan socius yang berarti teman atau masyarakat.
Menurut pendapat ahli:
1. Menurut pitirim A. Sorokin (1959), bahwa social stratification is permanent characteristic of any organized social group, yang artinya stratifikasi sosial merupakan ciri yang tetap pada setiap kelompok sosial yang teratur.
2. Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, stratifikasi sosial berarti sistem perbedaan status yang berlaku dalam suatu masyarakat.
3. Astried S. Susanto, stratifikasi sosial adalah hasil kebiasaan hubungan antar manusia secara teratur dan tersusun sehingga setiap orang, setiap saat mempunyai situasi yang menentukan hubungannya dengan orang secara vertikal maupun horozontal dalam masyarakatnya.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Stratifikasi Sosial adalah pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara vertikal, yang diwujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah.
b. Faktor penyebab stratifikasi sosial.
Beberapa kondisi umum yang mendorong terciptanya stratifikasi sosial dalam masyarkar menurut Huky (1982);
1. Perbedaan ras dan budaya, perbeedaan cirri biologis seperti warna kulit, latar belakang etnis dan budaya pada masyarakat tetentu mengakibatkan kelas-kelas tertentu.
2. Pembagian tugas yang tersepesialisasi, perbedaan posisi atau status dalam stratifikasi sosial dalam pembagian kerja ini terdapat dalam setiap masyarkaat.
3. Kelangkaan, stratifikasi lambat laun terjadi karena alokasi hak dan kekuasaan yang jarang atau langka. Kelangkaan ini terasa bila masyarakat mulai membedakan posisi, alat kekuasaan dan fungsi-fungsi yang ada dalam waktu sama.
c. Dasar stratifikasi sosial
1. Ukuran kekayaan, seseorang yang memiliki kekayaan paling banyak akan menempati pelapisan teratas.
2. Ukuran kekuasaan, seseorang yang memiliki kekuasaan atau mempunyai wewenang terbesar akan menempati pelapisan yang tinggi dalam pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan.
3. Ukuran kehormatan, orang yang dihormati dan disegani akan mendapatkan tempat pelapisan yang tinggi dan ini biasanya terdapat pada masyarakat yang masih tradisional.
4. Ukuran ilmu pengetahuan, digunakan sebagai salah satu faktor atau dasar pembentukan pelapisan sosial di dalam masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan.
d. Unsur-unsur stratifikasi sosial
(1) Status atau kedudukan
Paul B. Horton mendefinisikan status atau kedudukan sebagai suatu posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial.
(a) Ascribed Status merupakan kedudukan yang diperoleh seseorang melalui kelahiran.
(b) Achieved status merupakan status atau kedudukan seseorang yang diperoleh melalui usaha-usaha yang disengaja.
(c) Assigned status merupakan status atau kedudukan yang diberikan.
(2) Peranan
Menurut Soerjono Soekanto dalam peranan setidaknya mencakup tiga hal, yaitu sebagai berikut:
(a) Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat.
(b) Peranan sebagai konsep mengenai apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi.
(c) Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat.
e. Sifat stratifikasi sosial
1. Stratifikasi Sosial Tertutup
Membatasi kemungkinan seseorang untuk pindah dari satu lapisan ke lapisan yang lain, baik lapisan atas maupun lapisan bawah.
2. Stratifikasi Sosial Terbuka
Setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk naik ke lapisan sosial yang lebih tinggi karena kemampuan dan kecakapanya sendiri, atau turun ke lapisan sosial yang lebih rendah bagi mereka yang tidak cakap dan tidak beruntung.
3. Stratifikasi Sosial Campuran
Ada kemungkinan di dalam suatu masyarakat terdapat unsur-unsur dari gabungan kedua sifat pelapisan sosial.
f. Wujud stratifikasi sosial
1. Kriteria ekonomi
Stratifikasi ekonomi akan membedakan warga masyarakat menurut penguasaan dan kepemilikan materi. Kriteria ekonomi selalu berkaitan dengan aktivitas pekerjaan, kepemilikan atau kedua-duanya.
2. Kriteria sosial
Dengan memahami stratifikasi masyarakat berdasarkan kriteria sosial, orang akan mudah memahami peristiea atau gejala-gejala yang terjadidi dalam masyarakat.
3. Kriteria politik
Pelapisan dalam masyarakat berdasarkan kriteria politik berarti pembedaan penduduk atau warga masyarakat menurut pembagian kekuasaan. Sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial, kekuasaan berbeda dari kriteria lain, yaitu ekonomi dan kedudukan sosial. Dapat dikatakan kekuasaan merupakan suatu unsur yang khusus dalam pelapisan sosial.

1. Lima kriteria stratifikasi sosial menurut Talcott Parson
Talcott Parsons menyebutkan lima kriteria tinggi rendahnya status seseorang, yaitu:
A) Kriteria kelahiran: meliputi faktor ras, jenis kelamin, kebangsawanan, dan sebagainya.
B) Kriteria kualitas pribadi : meliputi kebijakan, kearifan, kesalehan, kecerdasan, usia dan sebagainya.
C) Kriteria prestasi : meliputi kesuksesan usaha, pangkat dalam pekerjaan, prestasi belajar, prestasi kerja, dan sebagainya.
D) Kriteria pemilikan: meliputi kekayaan akan uang dan harta benda.
E) Kriteria otoritas : yaitu kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain sehingga pihak lain tersebut bertindak seperti yang diinginkan.

2. Tujuh pedoman untuk memahami terbentuknya stratifikasi sosial
A. Distribusi hak-hak istimewa yang obyektif, seperti menentukan penghasilan, tingkat kekayaan, keselamatan dan wewenang pada jabatan/pangkat
B. Sistem pertanggaan (tingkatan) pada strata yang diciptakan masyarakat yang menyangkut prestise dan penghargaan, misalnya pada seseorang yang menerima anugerah penghargaan/gelar/kebangsawanan, dan sebagainya.
C. Kriteria sistem pertentangan, yaitu apakah didapat melalui kualitas pribadi,keanggotaan kelompok, kerabat tertentu, kepemilikan, wewenang atau kekuasaan.
D. Penentu lambang-lambang (simbol status) atau kedudukan, seperti tingkah laku, cara berpakaian dan bentuk rumah.
E. Tingkat mudah tidaknya bertukar kedudukan.
F. Alat solidaritas diantara individu-individu atau kelompok yang menduduki sistem sosial yang sama dalam masyarakat.
3. Cara terbentuknya stratifikasi sosial
1) Terbentuk dengan sendirinya, sesuai dengan perkembangan masyarakat yang bersangkutan. Misal kepandaian, tingkat umur, jenis kelamin, keturunan, sifat keaslian keanggotaan kerabat seorang kepala masyarakat dan harta kekayaan.
2) Dengan sengaja disusun, untuk mengejar tujuan tertentu. Misal pada organisasi formal pemerintahan, perusahaan, partai politik, perkumpulan, angkatan bersenjata, dan sebagainya.

4. Tujuh sifat masyarakat kasta/feodal
A. Keanggotaannya diperoleh melalui warisan dan kelahiran sehingga seseorang secara otomatis dan dengan sendirinya memiliki kedudukan seperti yang dimiliki orang tuanya.
B. keanggotaannya berlaku seumur hidup.
C. Perkawinannya bersifat endogami
D. Hubungan dengan kasta lain terbatas
E. Kesadaran dan kesatuan suatu kasta, identifikasi anggota kepada kastanya, penyesuaian diri yang ketat terhadap norma-norma kastanya.
F. Kasta terikat oleh kedudukan yang sevara tradisional telah ditentukan
G. Prestise suatu kasta benar-benar diperhatikan
5. Empat wujud solidaritas dari suatu kelas strata yang sama
A. Cara Berpakaian
B. Tempat Tinggal
C. Cara berbicara
D. Pendidikan

6. Alasan stratifikasi yang digambarkan dengan bagian kerucut
Stratifikasi sosial digambarkan dalam bentuk kerucut, hal ini berkaitan dengan jumlah warga masyarakat yang dapat digolongkan ke dalam kelas tersebut. Semakin tinggi kelas, semakin sedikit warga masyarakat yang masuk di dalamnya, sebaliknya semakin rendah kelas semakin banyak warga masyarakat yang digolongkan di dalamnya, Hal ini berlaku untuk kriteria sosial, politik dan ekonomi. Semua hal itu terjadi karena berhubungan dengan adanya prestise atau gengsi. Suatu pekerjaan bagi seseorang tidak sekedar berhubungan dengan berapa jumlah uang yang diterimanya sebagai gaji, tetapi juga status sosial yang dinikmati melalui pekerjaan itu.

1. Cara terbentuknya stratifikasi sosial
1) Terbentuk dengan sendirinya, sesuai dengan perkembangan masyarakat yang bersangkutan. Misal kepandaian, tingkat umur, jenis kelamin, keturunan, sifat keaslian keanggotaan kerabat seorang kepala masyarakat dan harta kekayaan.
2) Dengan sengaja disusun, untuk mengejar tujuan tertentu. Misal pada organisasi formal pemerintahan, perusahaan, partai politik, perkumpulan, angkatan bersenjata, dan sebagainya.

2. Tiga sifat stratifikasi sosial dengan gambar
1. Stratifikasi Sosial Tertutup
Membatasi kemungkinan seseorang untuk pindah dari satu lapisan ke lapisan yang lain, baik lapisan atas maupun lapisan bawah.

2. Stratifikasi Sosial Terbuka
Setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk naik ke lapisan sosial yang lebih tinggi karena kemampuan dan kecakapanya sendiri, atau turun ke lapisan sosial yang lebih rendah bagi mereka yang tidak cakap dan tidak beruntung.

3. Stratifikasi Sosial Campuran
Ada kemungkinan di dalam suatu masyarakat terdapat unsur-unsur dari gabungan kedua sifat pelapisan sosial.

3. Tujuh sifat masyarakat kasta/feodal
A. Keanggotaannya diperoleh melalui warisan dan kelahiran sehingga seseorang secara otomatis dan dengan sendirinya memiliki kedudukan seperti yang dimiliki orang tuanya.
B. keanggotaannya berlaku seumur hidup.
C. Perkawinannya bersifat endogami
D. Hubungan dengan kasta lain terbatas
E. Kesadaran dan kesatuan suatu kasta, identifikasi anggota kepada kastanya, penyesuaian diri yang ketat terhadap norma-norma kastanya.
F. Kasta terikat oleh kedudukan yang secara tradisional telah ditentukan
G. Prestise suatu kasta benar-benar diperhatikan

4. Alasan stratifikasi yang digambarkan dengan bagian kerucut

Stratifikasi sosial digambarkan dalam bentuk kerucut, hal ini berkaitan dengan jumlah warga masyarakat yang dapat digolongkan ke dalam kelas tersebut. Semakin tinggi kelas, semakin sedikit warga masyarakat yang masuk di dalamnya, sebaliknya semakin rendah kelas semakin banyak warga masyarakat yang digolongkan di dalamnya, Hal ini berlaku untuk kriteria sosial, politik dan ekonomi. Semua hal itu terjadi karena berhubungan dengan adanya prestise atau gengsi. Suatu pekerjaan bagi seseorang tidak sekedar berhubungan dengan berapa jumlah uang yang diterimanya sebagai gaji, tetapi juga status sosial yang dinikmati melalui pekerjaan itu.

1. Cara terbentuknya stratifikasi sosial
1) Terbentuk dengan sendirinya, sesuai dengan perkembangan masyarakat yang bersangkutan. Misal kepandaian, tingkat umur, jenis kelamin, keturunan, sifat keaslian keanggotaan kerabat seorang kepala masyarakat dan harta kekayaan.
2) Dengan sengaja disusun, untuk mengejar tujuan tertentu. Misal pada organisasi formal pemerintahan, perusahaan, partai politik, perkumpulan, angkatan bersenjata, dan sebagainya.

2. Tiga sifat stratifikasi sosial dengan gambar
1. Stratifikasi Sosial Tertutup
Membatasi kemungkinan seseorang untuk pindah dari satu lapisan ke lapisan yang lain, baik lapisan atas maupun lapisan bawah.

2. Stratifikasi Sosial Terbuka
Setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk naik ke lapisan sosial yang lebih tinggi karena kemampuan dan kecakapanya sendiri, atau turun ke lapisan sosial yang lebih rendah bagi mereka yang tidak cakap dan tidak beruntung.

3. Stratifikasi Sosial Campuran
Ada kemungkinan di dalam suatu masyarakat terdapat unsur-unsur dari gabungan kedua sifat pelapisan sosial.

3. Tujuh sifat masyarakat kasta/feodal
A. Keanggotaannya diperoleh melalui warisan dan kelahiran sehingga seseorang secara otomatis dan dengan sendirinya memiliki kedudukan seperti yang dimiliki orang tuanya.
B. keanggotaannya berlaku seumur hidup.
C. Perkawinannya bersifat endogami
D. Hubungan dengan kasta lain terbatas
E. Kesadaran dan kesatuan suatu kasta, identifikasi anggota kepada kastanya, penyesuaian diri yang ketat terhadap norma-norma kastanya.
F. Kasta terikat oleh kedudukan yang secara tradisional telah ditentukan
G. Prestise suatu kasta benar-benar diperhatikan

4. Alasan stratifikasi yang digambarkan dengan bagian kerucut

Stratifikasi sosial digambarkan dalam bentuk kerucut, hal ini berkaitan dengan jumlah warga masyarakat yang dapat digolongkan ke dalam kelas tersebut. Semakin tinggi kelas, semakin sedikit warga masyarakat yang masuk di dalamnya, sebaliknya semakin rendah kelas semakin banyak warga masyarakat yang digolongkan di dalamnya, Hal ini berlaku untuk kriteria sosial, politik dan ekonomi. Semua hal itu terjadi karena berhubungan dengan adanya prestise atau gengsi. Suatu pekerjaan bagi seseorang tidak sekedar berhubungan dengan berapa jumlah uang yang diterimanya sebagai gaji, tetapi juga status sosial yang dinikmati melalui pekerjaan itu.

KEISTIMEWAAN MASYARAKAT DIY SAAT GEMPA BUMI 27 MEI 2006 DITINJAU DARI MODAL SOSIAL DAN KEARIFAN LOKAL

1. Makna solidaritas dalam masyarakat saat terjadi bencana alam
Solidaritas dalam kamus besar bahasa Indonesia mempunyai arti mempunyai atau memperlihatkan perasaan bersatu (senasib, sehina, semalu dan sebagainya) dan setiakawan (Ajat Sudrajat dkk:2008:142). Manusia di dunia seakan tak tahan jika ada suatu tragedi kemanusiaan ataupun yang lainnya yang menimpa sesamanya. Seakan-akan akal, pikiran, nalar serta nafsunya telah hilang bahkan lumpuh. Namun ada hal yang tidak hilang yaitu hati nuraninya akan selalu terketuk untuk dapat menimbulkan suatu sikap empati dan simpati terhadap penderitaan sesama. hati nuraninya seakan-akan menggebu-gebu untuk menolong sesamanya yang sedang terkena bencana alam.
Bencana alam yang telah memporak porandakan segala jiwa, harta, dan benda telah menimbulkan rasa solidaritas yang menggebu-gebu dari manusia yang mungkin beruntung tidak mengalami bencana alam tersebut seperti bencana gempa bumi yang terjadi di Jogja dan Klaten. Pandangan tentang perbedaan individual yang selama ini diungkit-ungkit misalnya perbedaan suku, agama, ras, golongan bahkan pandangan politis seakan lenyap seketika oleh rasa empati dan simpati yang tinggi. Rasa simpati, bantuan doa, sumbangan serta ucapan duka cita hadir di tengah-tengah jeritan tangis air mata yang tak pernah habisnya. Kehilangan jiwa, benda, harta serta sanak saudara sejenak tergantikan dengan kehadiran bantuan solidaritas tersebut.
Rasa solidaritas yang spontan timbul telah menghilangkan sekat-sekat perbedaan, egoisme, individualisme, primordialisme serta etnosentrisme yang selama ini dibangga-banggakan. Memang sesungguhnya sesama manusia adalah saudara. Dalam penderitaan sesama kita dapat menemukan derita sendiri ini berarti bahwa sesuatu yang terjadi pada manusia lain adalah sama yang kita rasakan. Solidaritas memang melenyapkan pandangan kita tentang kepicikan, kelicikan serta anggapan tentang rendahnya suatu kaum. Bantuan moril dan material yang mengucur ke korban bencana alam gempa bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah seakan-akan membuktikan bahwa setiap manusia mempunyai rasa solidaritas yang tak akan lekang oleh waktu dan tak akan hilang dimakan zaman.
Lawrence A.Blum mengemukakan bahwa solidaritas diarahkan kepada orang lain karena penderitaan yang sedang dialami. Ketika Gempa bumi yang melanda Jogja dan sekitarnya hal yang paling tepat adalah solidaritas. tentunya rasa solidaritas itu diwujudkan bukan hanya kata-kata dan empati saja namun butuh action seperti penyaluran bantuan kemanusiaan. Bagi Robert A. Sirico (Majalah Religion & Liberty, edisi September dan Oktober 2001, Vol. 11, No. 5), solidaritas adalah “the acceptance of our social nature and the affirmation of the bonds we share with all our brothers and sisters.” Jelas bagi Sirico, solidaritas dapat ditimbulkan oleh perasaan simpati atau bela rasa (compassionate) atas keadaan penderitaan yang dialami orang lain. Tapi perasaan ini saja tidak cukup. Banyak hal dan langkah yang bisa dilakukan oleh setiap orang untuk membuktikan rasa solidaritas sosial itu antara lain dengan pemberian bantuan.
Hal ini tentunya sangat relevan dengan penderitaan yang dialami korban gempa bumi Jogja. mereka tidak butuh bantuan empati, mereka tidak hanya menderita batin saja tetapi material, oleh karenanya bantuan material sangat diperlukan. Solidaritas haruslah merupakan pengakuan akan hakikat diri kita sebagai mahkluk sosial yang tidak ingin membiarkan orang lain berkembang tanpa bantuan dan kerja sama kita, karena kesadaran bahwa kita pun tidak mungkin hidup dan berkembang tanpa bantuan orang lain. Sisi lain dari solidaritas adalah penegasan bahwa kita dan orang lain, dalam situasi penderitaan atau situasi normal, berbagi ikatan yang sama sebagai saudara. Sikap yang menunjukkan bahwa kita semua adalah sama di mata Tuhan telah mendukung penegasan bahwa sudah selayaknya kita harus mempunyai jiwa tolong menolong karena kita tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain.
Solidaritas yang luar biasa telah ditunjukkan oleh masyarakat. Bukan hanya saja masyarakat Indonesia yang berjiwa Pancasila dan UUD 1945, tetapi telah membelalakkan mata dunia akan terjadinya tragedi kemnusiaan di Jogja. bukan hanya sekali ini saja solidaritas yang ditunjukkan baik oleh masyarakat Indonesia sendiri maupun Internasional. Namun juga ditunjukkan dalam bencana alam di Aceh, Nabire, Padang, Pangandaran dan lain-lain. Bantuan solidaritas yang sampai ke korban gempa misalnya makanan, obat-obatan, pakaian, tenda, selimut, alat mandi, peralatan pribadi dan lain-lain apalagi setelah gempa terjadi hujan deras apalagi rumah-rumah hancur rata dengan tanah. Selain bantuan material banyak juga bantuan yang diwujudkan dalam bentuk tenaga misalnya bantuan relawan untuk mencari mayat- mayat yang sulit ditemukan akibat tertimbun oleh rumah yang roboh. bantuan relawan sangat dibutuhkan karena hanya dengan tenaga lah sanak saudara mereka bisa dicari karena itu relawan sangat berarti bagi korban bencana alam selain sebagai penyalur bantuan bagi korban bencana alam yang khususnya terjadi di Yogyakarta.
Dalam memasuki tahap bantuan selanjutnya, yaitu pada tahapan Recovery (pemulihan), dinyatakan akan tetap diteruskan distribusi logistik, penyaluran Dana dan jaminan hidup. Kondisi tahap ini tentu perekonomian dasar dianggap sudah mulai berjalan. Konsolidasi dalam keluarga di berbagai tempat pengungsi bahkan dijanjikan akan disediakan 200 ribu Tenda Keluarga, bantuan pengungsi senilai Rp. 1.050.000 per 5 orang/ per bulan, bantuan beras 40 kg per bulan/per jiwa, uang lauk pauk Rp. 3.000 per jiwa/ per hari, 100 ribu rupiah untuk beli pakaian, 100 ribu rupiah untuk beli peralatan dapur. Tentunya bantuan dari pemerintah tersebut bagi pengungsi tentulah belum mencukupi namun karena adanya jiwa gotong royong maka didirikanlah dapur umum yang bisa untuk memasak bersama dan tentunya mengurangi biaya hidup bagi setiap warga dan meringankan beban pemerintah dalam penanggulangan bencana.
Bencana gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta dan Jawa Tengah, Sabtu, tanggal 27 Mei 2006 yang lalu. telah mengakibatkan ribuan nyawa manusia melayang, ratusan ribu rumah penduduk dan bangunan lainnya hancur dalam sekejap. Anak banyak kehilangan orangtuanya, orang tua juga kehilangan anaknya. Fasilitas infrastruktur untuk publik umum ambruk, jalan-jalan terputus, komunikasi tak jalan. Akibat gempa itu, selain memakan korban jiwa dan harta benda, juga mengakibatkan banyak masyarakat di wilayah darurat ini kehilangan mata pencahariannya. Perekonomian masyarakat menjadi terganggu dan jumlah total kerugiannya pun luar biasa banyaknya. Kita tentu sangat prihatin dan ikut merasakan bagaimana penderitaan yang harus dipikul para saudara sebangsa dan setanah air.
Manusia saat itu seakan tidak berdaya menghadapi penderitaan yang dialami sesamanya. Nalarnya lumpuh dan tak mampu menemukan kata-kata yang tepat buat melukiskan tragedi yang sedang terjadi. Dirinya diliputi emosi yang mendalam, simpati yang menggelora, dan hasrat yang menggebu untuk menolong. Demikianlah, kehancuran dan derita akibat bencana gempa bumi telah melahirkan rasa simpati yang mendalam, sikap bela rasa dan kepeduliaan teramat kuat kepada para korban.
Seluruh sumbangan, ucapan turut berduka cita atau kehadiran fisik di tengah-tengah isak tangis dan derai air mata telah melebur sekat-sekat subjek – objek, pandangan politik golongan kita versus golongan lain atau ajaran agama yang picik dan murahan tentang kaum yang terselamatkan versus kelompok kafir dan terkutuk. Kita adalah sama saudara, kita adalah sahabat. Dalam derita sesama kita menemukan derita kita sendiri. Solidaritas memang melenyapkan seluruh sekat dan perbedaan di antara kita. Bantuan moril dan materil akan terus mengalir ketika musibah atau bencana alam menimpah kelompok masyarakat Jogja.
Jeritan tangis dan rintihan jiwa para anggota keluarga korban Gempa Bumi telah menjadi kepedihan kita bersama. Bencana gempa bumi telah pula menjadi kenyataan yang menyakitkan perasaan kemanusiaan kita. Sungguh saat itulah kita yang sebagai bagian dari masyarakat Indonesia menunjukkan rasa solidaritas sosial dan kemanusiaannya, yang sesungguhnya tanpa melihat latar belakang pembedaan antar ras dan keyakinan, yang secara konkret dengan memberikan bantuan untuk meringankan penderitaan jiwa dan raga korban di Bantul, Yogya, Klaten dan sekitarnya. Saat itu sangatlah mengaharukan penuh dengan air mata haru dimana semua elemen masyarakat menunjukkan solidaritasnya.Bentuk solidaritas ini sangatlah diharapkan untuk bisa diwujudkan dengan banyak cara.
Berkaitan dengan itu, hanya satu kata untuk korban bencana: Bantu! Dengan demikian kita tetap berusaha semampunya untuk meningkatkan solidaritas kita bersama. Dan saat itu waktunya bagi kita untuk menyatakan rasa setia kawan dan persaudaraan. Sebab, dilihat dari sudut apapun bahwa apa yang terjadi di Yogyakarta dan Jawa Tengah ini adalah sesuatu malapetaka yang tragis dan dramatis (Catastrofe). Dari sana kita bangkit untuk mewujudkan solidaritas bersama. Atas dasar rasa kemanusiaan yang abadi inilah, bantuan kita mungkin bisa meringankan penderitaan mereka, baik oleh pemerintah, swasta, ormas, pribadi dan tentunya dari kita yang bermukim di luar negeri.
Bersolider dengan orang lain menunjukkan bahwa we are all brothers and sisters. Sikap solider sekaligus menegaskan bahwa orang lain, siapa pun dia, senantiasa menampakkan diri kepada kita sebagai “wajah” yang menuntut perhatian (care), perawatan (nurturing), dan tanggung jawab (Emmanuel Levinas: 1997: 96). Menyitir pemikiran Dariusz Dobrzanski dalam artikelnya berjudul The Concept of Solidarity and Its Properties (2003), solidaritas yang kita tunjukkan kepada sama saudara korban gempa bumi dan bencana-bencana lainnya hanyalah satu sisi dari dua wajah solidaritas.
1. Wajah pertama solidaritas adalah wajah deskriptif, yakni fakta objektif adanya penderitaan yang kemudian memicu perasaan solidaritas kita. Inilah wajah penuh derita dan air mata yang menampakan diri kepada kita ketika terjadi bencana alam. Kalau kita hanya memiliki wajah solidaritas deskriptif, maka kita akan kehilangan rasa solidaritas dalam situasi normal ketika wajah menampakan dirinya dalam keadaan sukacita dan keceriaan. Padahal, merujuk fenomenologi wajah Emmanuel Levinas, solidaritas tidak boleh berhenti karena orang lain adalah wajah, yakni saudara yang selalu meminta kehadiran kita untuk berkembang bersamanya.
2. Wajah solidaritas normatif menegaskan bahwa dalam situasi dan kondisi apapun, relasi antarmanusia haruslah merupakan sebuah realitas normatif yang menuntut tindakan-tindakan yang sifatnya normatif pula. Wajah solidaritas normatif mengundang sekaligus menuntut kita untuk menerima orang lain apa adanya, tidak peduli apa suku, etnis atau agama orang itu. Wajah solidaritas normatif menantang kita untuk dapat bekerja dengan orang lain, menerima mereka sebagai saudara dan bersedia berkembang bersama, termasuk ketika salah satu dari kita mengalami bencana dan kesusahan hidup. Wajah solidaritas normatif mampu meluluhkan sekat-sekat perbedaan dan mengumpulkan seluruh umat manusia sebagai saudara yang mengusahakan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup bersama (Soleman b. Taneko : 1984 :116)
Apalagi ditambah dengan sikap yang mampu mendukung dari pelaksanaan solidaritas itu. Bahkan landasan dalam melakukan solidaritas itu sendiri sudah ada dalam dasar Pancasila. Negara Indonesia berdasarkan kekeluargaan yang dinyatakan dengan tegas dalam penjelasan UUD 1945, yang berbunyi : Negara melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dengan berdasarkan persatuan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Solidaritas merupakan salah satu wujud nyata dari modal sosial yang selama ini digembor-gemborkan banyak orang dalam menghadapi persaingan global terutama untuk menghadapi kapitalisme yang saat ini semakin menjadi-menjadi dan menjadikan sifat individual. Modal sosial saat ini mulai dilirik oleh sebagian besar masyarakat dunia untuk dijadikan pedoman dalam berbagai bidang karena paham kapitalis yang semakin runtuh dan hancur. Modal sosial sesuai dengan Pancasila dapat menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju dan disegani tentunya bukan saat terjadi bencana alam saja akan tetapi setiap saat ketika semua orang membutuhkan.
Dalam kehidupan keluarga berkembang perasaan cinta kasih diantara sesama anggotanya yang menimbulkan solidaritas antara. Solidaritas itu dapat dilihat pada mereka untuk saling membantu dan melakukan pekerjaan bersama demi kepentingan bersama. Kita semua merupakan anggota masyarakat dan anggota keluarga. Karena selalu mengembangkan sikap memberi pertolongan atas dasar keikhlasan. Sifat inilah yang mendorong manusia untuk bisa lebih menghargai perbedaan karena manusia memang diciptakan berbeda dan sifat solidaritas diciptakan bukan atas dasar perbedaan suku,ras,agama ataupun antar golongan tetapi lebih ke sifat tulus ikhlas dan kasih sayang sehingga setiap manusia berhak untuk menciptakan dan menerima sifat solidaritas tersebut.
2. Cara memupuk rasa solidaritas agar tidak hilang dari kehidupan.
Solidaritas sosial merupakan salah satu bentuk dari modal sosial yang ada dalam masyarakat Indonesia hal ini dibuktikan misalnya dengan solidaritas nasi bungkus,bantuan material, doa ataupun solidaritas gotong royong dan tenaga. Pada saat ini solidaritas mulai terancam keberadaannya dengan banyaknya paham kapitalis atau individualis yang mulai muncul di Indonesia. Untuk itu diperlukan langkah yang nyata dan berkesinambungan untuk mencegah terkikisnya solidaritas sosial dari ancaman paham kapitalis yang berasal dari luar Indonesia. Sifat solidaritas sangat sesuai dengan jiwa pancasila yang dianut oleh seluruh rakyat Indonesia.
Cara memupuk rasa solidaritas agar tidak luntur dari dalam masyarakat harus dibiasakan sejak dini dan bukan hanya saat terjadi bencana alam saja. Rasa solidaritas dapat dimasukkan dalam pendidikan karakter yang saat ini diwacanakan di berbagai sekolah dan perguruan tinggi. Kita harus selalu menegembangkan sikap :
1. Mencintai sesama manusia tanpa memandang suku, agama, ras maupun golongan.
2. Mengembangkan sikap saling menghormati, menghargai dan menolong sesama manusia.
3. Mengembangkan sikap gotong royong dan kerja sama tanpa pamrih dan sukarela.
4. Mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi.
5. Menghilangkan sikap menonjolkan diri, primordialisme, etnosentrisme, individualisme serta egoisme.
6. Membuktikan sikap solidaritas dengan sikap empati dan simpati.
7. Memupuk rasa nasionalisme dan cinta tanah air Indonesia
KESIMPULAN

Solidaritas merupakan sikap memperlihatkan perasaan bersatu (senasib, sehina, semalu dan sebagainya) dan setiakawan. Manusia di dunia seakan tak tahan jika ada suatu tragedi kemanusiaan ataupun yang lainnya yang menimpa sesamanya. Seakan-akan akal, pikiran, nalar serta nafsunya telah hilang bahkan lumpuh. Namun ada hal yang tidak hilang yaitu hati nuraninya akan selalu terketuk untuk dapat menimbulkan suatu sikap empati dan simpati terhadap penderitaan sesama. hati nuraninya seakan-akan menggebu-gebu untuk menolong sesamanya yang sedang terkena bencana alam.
Cara memupuk rasa solidaritas dengan cara : mencintai sesama manusia tanpa memandang suku, agama, ras maupun golongan, mengembangkan sikap saling menghormati, menghargai dan menolong sesama manusia, mengembangkan sikap gotong royong dan kerja sama tanpa pamrih dan sukarela, mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi, menghilangkan sikap menonjolkan diri, primordialisme, etnosentrisme,

DAFTAR PUSTAKA

Djahiri,Kosasih.1991-1992.Pendidikan Pancasila.Jakarta : Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan

http://commonroomnetworks.blogspot.com/ diakses tanggal 2 Desember 2010
pukul 21.00 WIB

http://helpjogja.net/gempa-jogja/category/berita-gempa/ diakses 2 Desember 2010
pukul 21.30 WIB

http://kompas.com/utama/news/0606/05/145427_.htm diakses 3 Desember 2010
pukul 22.00 WIB

http://www.detik.com/; http://www.kompas.com/index.php/newsindex diakses 3
Desember 2010 pukul 22.13 WIB

Koenjaraningrat.2005.Antropologi Jilid 1. Jakarta:Rineka Cipta

Sudrajat, Ajat dkk.2008. Din Al-Islam. Yogyakarta : UNY Press

Taneko, B. Soleman, 1984. Struktur dan Proses Sosial. Jakarta : Rajawali

PEMBREDELAN BUKU

Akhir-akhir ini publik di negeri ini dikejutkan dengan terbitnya buku yang kontroversial yakni “Membongkar Gurita Cikeas” yang dikarang oleh George J Aditjandra seorang Ilmuwan lulusan Newcastle University Australia. Buku ini begitu sangat menyita perhatian publik karena di dalamnya terdapat nama Presiden di negeri ini Susilo Bambang Yudhoyono mengenai kasus Bank Century. Nama SBY diseret dan disebut –sebut menerima aliran dana kampanye dari Century. Namun dalam perkembangannya ilmuwan-ilmuwan lain membantah nya termasuk orang-orang yang di dalamnya dan menganggap fitnah semata.
Pihak Istana Negara yang menjadi bahan kupasan dalam buku milik George Aditjandra tersebut, cepat berfikir logis. Tak mungkin di zaman Orde Reformasi begini masih berlaku pembredelan buku atau pelarangan edar buku. Mereka membuat buku tandingan. Buku yang digagas untuk menetralisir segala tuduhan buruk yang sudah dilancarkan penulis buku pada pihak Istana Negara. Istana Negara itu bukan saja hanya SBY seorang yang dimaksud, tapi seluruh lingkaran-lingkaran kekuasaan yang berlokus di Istana Negara, termasuk para menterinya. Rabu, 6 Januari kemarin, Setiyardi Negara, tentu atas perintah Istana Negara pastinya, meluncurkan buku berjudul: “Hanya Fitnah dan Sensasi, George Revisi Buku”. Sayang tipis, 31 halaman saja. Apesnya lagi, Mantra belum juga membacai apa isi buku setipis itu.
Dialektika intelektual memang perlu dikembangkan di negeri ini. Jika ada musuhmu yang menyerang eksistensimu dengan tangan kosong, maka etikanya juga pantas engkau tangkis dengan tangan hampa. Andaikata pihak lawan melontarkan serangan maut dengan menggunakan senapan, maka cukup engkau halau juga dengan berlindung di balik baju baja dan secepat mungkin engkau arahkan revolver yang ada di balik bajumu ke arah dadanya.
Dalam ilmu jurnalistik, jika ada seseorang yang dirugikan melalui sebuah pemberitaan media massa, maka pihak yang dirugikan tersebut berhak mengklarifikasikannya melalui pemberitaan serupa pada edisi berikutnya. Ada hak jawab dan hak mengkonfrontir maupun sekaligus mengiyakan yang dimiliki oleh seseorang dalam dunia jurnalistik. Jadi kalau kita dirugikan oleh pemberitaan sebuah koran, kita tak perlu memukuli penulis berita tersebut atau nara sumber yang mengemukakan materi berita tersebut. Melainkan menggunakan hak jawab, yang hak jawab tersebut juga berhak untuk di muat di koran bersangkutan, pada halaman yang sama, dan porsi berita yang seimbang pula dengan berita yang merugikan tersebut. Informasi buku, juga baiknya ditaklukkan melalui informasi buku pula. Buku melawan buku, tulisan melawan tulisan. Logika ditandingi dengan logika, postulat ditaklukkan dengan postulat baru, sanggahan dijinakkan dengan data pula dan semacamnya.
Terlepas dari benar atau tidaknya buku “Membongkar Gurita Cikies”, tidak penting untuk kita adili. Pada masa kini yang membenarkan dan menyalahkan adalah pembaca. Pembaca memiliki kebebasan dan kemerdekaan berfikir, mengapresiasi dan menilai apa layak isi sebuah buku. Melarang sebuah buku terbit, betapa pun itu berbahayanya bagi keamanan negara, betapa pun pornonya bahan bacaan buku tersebut, atau betapa pun kontennya jauh dari eleganitas dan menyinggung sara; setiap buku tidak boleh dilarang terbit dan beredar di masyarakat. Nanti yang akan mengadili adalah hukum alam dan masing-masing calon pembeli. Buku yang buruk, tak mungkin akan dibeli oleh masyarakat. Buku yang hanya mengumbar nafsu birahi atau penuh dengan fitnah, tak bakal laku di pasaran. Tapi tampaknya kita belum siap dengan itu semua. Pranata sosial dan maintenun bangsa ini belum sampai pada atmosfer intelektual untuk itu. Kita ini baru mencapai tahapan anak puber yang suka berpetualang menjajali setiap hal, tidak peduli apakah itu perkara haram atau halal.
Sumber: http://www.detiknews.com/

MARAKNYA BUNUH DIRI DI NEGERI INI

Akhir-akhir ini di berbagai media diberitakan berbagai kasus bunuh diri. Kasus bunuh diri tersebut dilakukan dengan berbagai cara termasuk dengan melompat dari atas gedung perbelanjaan. Dalam sosiologi bunuh diri merupakan kasus penyimpangan dan merupakan masalah sosial karena bunuh diri penyebabnya menyangkut dengan orang lain. Bunuh diri dilakukan dan dijadikan sebagai jalan keluar satu-satunya oleh sebagian orang karena dengan bunuh diri dirasa semua masalah akan selesai dengan sendirinya padahal kenyataanya masih ada kehidupan di dunia lain.
Dalam karya terkenalnya ‘Le Suicide’ (1897), Durkheim melihat tindakan individu dilatarbelakangi oleh faktor-faktor sosial. Dengan membandingkan data statistik dari masyarakat yang berbeda-beda, Durkheim menunjukkan bahwa ada keteraturan dalam pola-pola bunuh diri :
• Bunuh diri Egoistik dapat kita temui ketika individu dalam suatu masyarakat tidak dapat terintegrasikan oleh kelompoknya, maka dalam hal ini individu tersebut merasa tidak dibutuhkan atau di tiadakan dan dengan perasaan yang demikian maka akan mendorong individu tersebut untuk melakukan bunuh diri
• Bunuh diri Anomik dapat terjadi ketika keadaan suatu kelompok masyarakat dalam keadaan keguncangan dan di dalamnya tidak terdapat suatu Nilai atau Norma yang dapat digunakan sebagai pedoman maka disini individu akan meraskan kebingungan dan hal tersebut akan mendorongnya untuk melakukan tindakan bunuh diri.
• Bunuh diri Altruistik, bunuh diri tipe ini disebabkan oleh adanya ikatan sosial yang sangat kuat. Misal dalam tragedi Bom bali yang mana dalam analisa kasusnya merupakan bom bunuh diri. dalam hal tersebut saya yakin ada sebuah organisasi yang mempunyai missi untuk melakukan pengeboman tersebut ,dan karena kuatnya ikatan sosial dalam organisasi tersebut maka salah satu dari anggota kelompok tersebut rela mengorbankan dirinya asalkan apa yang menjadi misi atau tujuan kelompok tersebut dapat tercapai.
• Bunuh diri Fatalistik, terjadi karena tekanan yang teramat oleh kelompok laen. misalnya karena tekanan seorang Majikan terhadap pembantunya. atau seperti pada masyarakat budak.
Fenomena bunuh diri terjadi di masyarakat adalah bunuh diri anomik yaitu karena sedang mengalami transisi. “Nilai-nilai lama (tradisional) dalam masyarakat telah ditinggalkan, sementara nilai-nilai baru belum terlalu kuat sehingga masyarakat mengalami anomali atau kondisi galau. Kondisi ini membuat masyarakat menjadi sosok yang lemah. Saat tertimpa masalah, mereka kehilangan tempat mengadu, sehingga mudah mengalami putus asa. Nilai tradisional sebagai paham yang ditinggalkan adalah menganut sifat-sifat kegoton-groyongan maupun tolong menolong. Sedangkan nilai modem lebih mengedepankan sisi rasional. Masyarakat saat ini masih berpaham tradisional, tetapi kondisi lingkungan menuntutnya untuk berperilaku modern. Akhirnya, yang muncul sosok yang tidak kuat dan hal itu makin tampak saat mereka tertimpa masalah.
Bukan tanpa sebab seseorang memutuskan bunuh diri sebelum melakukan aksi bunuh diri, ada peristiwa-peristiwa yang melatarbelakangi orang memutuskan mengakhiri hidup. Salah satu pemicunya adalah stres. Saat mengalami kondisi tersebut, umumnya orang tidak lagi memiliki harapan hidup. Sementara situasi lain yang memicu untuk melakukan bunuh diri adalah saat orang berada pada kondisi putus asa. Saat kondisi ini, seseorang tidak memiliki jalan keluar untuk menyelesaikan masalah. Bunuh diri dianggap jalan cepat untuk mengakhiri masalah. Selain karena pribadi seseorang sedang dilanda masalah, media massa dipandang memiliki peran pemicu. Informasi yang menampilkan bunuh diri mengingatkan seseorang untuk melakukan tindakan serupa. Orang yang akan melakukan bunuh diri biasanya pernah memiliki keinginan bunuh diri.
Sumber : Richard osborne,dkk. 2005, Mengenal dan Memahami Sosiologi. Batam:Scientifik Press

PEMANASAN GLOBAL

Akhir-akhir ini isu tentang pemanasan global makin menyeruak bahkan dijadikan hal yang sangat penting. Pemanasan global atau yang sering kita sebut global warming adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi. Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar.
Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbondioksida (CO2), metana (CH4), dan clorofluorocarbon (CFC) yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca.
Atmosfer bumi terdiri dari bermacam-macam gas dengan fungsi yang berbeda-beda. Kelompok gas yang menjaga suhu permukaan bumi agar tetap hangat dikenal dengan istilah “gas rumah kaca”. Disebut gas rumah kaca karena sistem kerja gas-gas tersebut di atmosfer bumi mirip dengan cara kerja rumah kaca yang berfungsi menahan panas matahari di dalamnya agar suhu di dalam rumah kaca tetap hangat, dengan begitu tanaman di dalamnya pun akan dapat tumbuh dengan baik karena memiliki panas matahari yang cukup.
Kontributor terbesar pemanasan global saat ini adalah Karbon Dioksida (CO2), metana (CH4) yang dihasilkan agrikultur dan peternakan (terutama dari sistem pencernaan hewan-hewan ternak), Nitrogen Oksida (NO) dari pupuk, dan gas-gas yang digunakan untuk kulkas dan pendingin ruangan (CFC). Rusaknya hutan-hutan yang seharusnya berfungsi sebagai penyimpan CO2 juga makin memperparah keadaan ini karena pohon-pohon yang mati akan melepaskan CO2 yang tersimpan di dalam jaringannya ke atmosfer. Setiap gas rumah kaca memiliki efek pemanasan global yang berbeda-beda.
Beberapa gas menghasilkan efek pemanasan lebih parah dari CO2. Sebagai contoh sebuah molekul metana menghasilkan efek pemanasan 23 kali dari molekul CO2. Molekul NO bahkan menghasilkan efek pemanasan sampai 300 kali dari molekul CO2. Gas-gas lain seperti chlorofluorocarbons (CFC) ada yang menghasilkan efek pemanasan hingga ribuan kali dari CO2. Tetapi untungnya pemakaian CFC telah dilarang di banyak negara karena CFC telah lama dituding sebagai penyebab rusaknya lapisan ozon.
Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya. Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F) dengan efek rumah kaca (tanpanya suhu bumi hanya -18°C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi). Akan tetapi sebaliknya, akibat jumlah gas-gas tersebut telah berlebih di atmosfer, pemanasan global menjadi akibatnya.
Planet kita pada dasarnya membutuhkan gas-gas tesebut untuk menjaga kehidupan di dalamnya. Tanpa keberadaan gas rumah kaca, bumi akan menjadi terlalu dingin untuk ditinggali karena tidak adanya lapisan yang mengisolasi panas matahari. Sebagai perbandingan, planet mars yang memiliki lapisan atmosfer tipis dan tidak memiliki efek rumah kaca memiliki temperatur rata-rata -32o Celcius.
Dengan adanya Global warming tersebut maka negara-negara maju maupun berkembang waspada yaitu dengan membentuk suatu protokol yang dapat mencegah dampak global warming lebih luas lagi. Bahkan PBB telah membentuk suatu badan yang khusus menangani masalah tersebut yakni UNFCC atau united nation for climate change atau badan khusus PBB yang menangani perubahan iklim. Baru-baru ini konferensi tersebut diadakan di kopenhagen Denmark dan bertujuan untuk meratifikasi protokol kyoto yang telah lama. Intinya bahwa negara-negara maju harus mengurangi efek rumah kaca sedangkan negara berkembang di beri dana untuk penghijaun sehingga terjadi timbal balik yang saling menguntungkan.
Sumber :Kedaulatan Rakyat 23 April 2009

  • Twitter Terbaru

    Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.